“Hadirnya klinik ini akan menjadi bagian dari tangan kiri partai kita untuk bersikap progresif di dalam menyelamatkan rakyat. Sedangkan tangan kanan partai adalah manajemen pelayanan tanpa diskriminasi. Di klinik ini, rakyat tidak ditanya berapa kekayaanmu, tetapi rakyat ditanya apa penyakitmu dan kita memberikan pelayanan tanpa diskriminasi,” tegasnya lagi.
Visi politik kesehatan progresif disambut nyata oleh Wali Kota Sukabumi, H. Ayep Zaki. Dalam sambutannya, Ayep Zaki menegaskan bahwa mulai 1 Januari 2026, Pemerintah Kota Sukabumi resmi menghapuskan segala bentuk retribusi kesehatan bagi masyarakat.
“Apa yang tadi disampaikan oleh Mbak Ning (dr. Ribka Tjiptaning), untuk Januari 2026 ini tidak ada lagi namanya retribusi untuk klinik maupun Puskesmas. Tidak boleh ada lagi. Jadi tidak ada retribusi untuk kesehatan, dan memang itu sudah saya berlakukan sejak tanggal 1 Januari 2026. Insya Allah, Mbak, tidak ada lagi,” ujar Ayep Zaki.
Lebih lanjut, Ayep Zaki menyatakan komitmen pribadinya untuk mendukung operasional Klinik Waluya Sejati Abadi dengan menyumbangkan Rp30 juta per tahun dari dana pribadi. Ia juga berjanji akan mengawal kenaikan kelas klinik tersebut dari Klinik Pratama menjadi Klinik Utama secara bertahap. “Wali kota yang sekarang berkomitmen untuk menyelesaikan hak-hak dasar masyarakat Kota Sukabumi, dan itu sejalan juga dengan PDI Perjuangan,” tambah Ayep Zaki.
Hasto Kristiyanto mengapresiasi dukungan kolektif ini, termasuk bantuan ambulans dari Budi ‘Kanang’ Sulistyono serta jaminan operasional dari Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Barat, Ono Surono.
Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh seperti dr. Ribka Tjiptaning (Ketua DPP Bidang Kesehatan), Ono Surono (Ketua DPD Jawa Barat), Wanto Sugito (Sekretaris DPD Banten), Iwan Adhar Ridwan (Ketua DPC Kota Sukabumi), Paoji Nurjaman (Ketua DPC Kabupaten Sukabumi), serta jajaran pengurus PAC dan Ranting.











