Logikanya, pengawasan diperketat seperti apa yang menghasilkan lebih banyak korban?
Pada titik ini, MBG tidak lagi bisa disebut sebagai kebijakan perbaikan gizi. Ia telah berubah menjadi eksperimen besar-besaran, dengan anak-anak sebagai kelinci percobaan. Pemerintah sibuk dengan pamer keberhasilan saat korban terus berjatuhan. Seolah-olah yang harus dilindungi bukan anak-anak, melainkan gengsi kekuasaan.
Berapa banyak anak lagi yang harus menjadi korban agar negara mau memperbaiki diri? Jika ribuan korban masih dianggap wajar, maka masalahnya bukan sekadar MBG. Masalahnya adalah pemerintah yang kehilangan moral.
Data Januari 2026 mengirimkan pesan paling berbahaya bahwa bagi pemerintah keselamatan anak seolah-olah bisa dikorbankan demi mempertahankan program unggulan.[***]
Oleh Hamdi Putra, Forum Sipil Bersura (FORSIBER).











