Normalisasi risiko seperti ini sangat berbahaya. Hari ini ribuan korban dianggap konsekuensi yang masih dapat diterima demi keberlanjutan program. Besok, angka yang lebih besar berpotensi diperlakukan dengan cara yang sama. Inilah titik di mana kebijakan sosial kehilangan dimensi kemanusiaannya dan berubah menjadi proyek semata.
Program makan untuk anak-anak seharusnya berdiri di atas standar kehati-hatian paling tinggi, karena yang dipertaruhkan bukan hanya kesehatan jangka pendek, tetapi kepercayaan publik terhadap negara sebagai pelindung terakhir.
Persoalan ini bukan tentang satu pernyataan atau satu pejabat, melainkan tentang cara berpikir yang harus segera dikoreksi. Negara tidak boleh bersyukur karena kegagalan belum menjadi bencana yang lebih besar. Negara seharusnya gelisah bahkan ketika satu anak saja menjadi korban.
Karena ketika ribuan anak jatuh sakit dan respon pertama yang muncul adalah rasa syukur, yang sesungguhnya sedang dipertontonkan bukan keberhasilan program, melainkan menurunnya standar kepedulian terhadap nyawa manusia itu sendiri.[***]
Oleh: Hamdi Putra, Forum Sipil Bersuara (FORSIBER).











