Spekulasi Serangan Militer AS ke Iran Menguat, Bocoran Whistleblower Ungkap Perpecahan di Lingkaran Donald Trump

"Spekulasi terjadinya serangan militer AS ke Iran semakin mencuat."
Spekulasi terjadinya serangan militer AS ke Iran semakin mencuat. (Dok. Metro TV)

Kiriakou menilai penetapan tenggat waktu tersebut merupakan bagian dari taktik untuk membuat lawan lengah. “Yah, dia akan memberi Anda 10 hari, dia akan memberi Anda dua minggu, dan kemudian dia akan menyerang dua hari kemudian. Dia pikir itu membuat orang-orang kehilangan keseimbangan,” papar Kiriakou.

Trump sendiri memberikan peringatan keras kepada wartawan pekan lalu mengenai batas waktu perundingan nuklir ini.

“Anda mungkin akan mengetahuinya dalam 10 hari ke depan. Saya rasa itu cukup waktu… maksimal 10 atau 15 hari,” ujarnya tanpa merinci detail tindakan militer yang akan diambil jika kesepakatan gagal tercapai.

Bocoran ini juga mengungkap peta dukungan di tingkat petinggi keamanan AS. Menurut sumber Kiriakou, rencana serangan tersebut mendapat dukungan penuh dari Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, hingga jajaran Kepala Staf Gabungan (Joint Chiefs of Staff).

Namun, penolakan disebut datang dari dua figur kunci di samping Trump, yakni Wakil Presiden J.D. Vance dan Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard.

Ketidakpastian ini diperkuat oleh laporan media Axios yang mengutip penasihat senior Trump, menyebutkan bahwa presiden hingga kini belum membuat keputusan final terkait aksi militer.

Senada dengan itu, Senator Lindsey Graham mengungkapkan adanya perdebatan internal di Gedung Putih.

Meskipun dirinya mendukung aksi militer, Graham mengakui beberapa orang di lingkaran dekat Trump secara tegas menentang langkah tersebut.

Kini, dunia menunggu apakah gertakan “10 hari” dari Trump akan berujung pada meja perundingan atau justru memicu eskalasi militer besar di kawasan Timur Tengah pada awal pekan depan.

Baca Juga: Gertakan “Locked and Loaded” Donald Trump Alami Kebuntuan di Hadapan Iran