“Alhamdulillah huntara sudah mulai (dibangun). Tempat kami lambat karena jauh dari perkotaan. Kalau hujan, kendala untuk bawa materialnya ke lokasi, makanya tempat kami paling lambat,” ungkap Rudi jujur.
Tak sekadar membangun tempat tinggal sementara, pemerintah dan warga mulai memikirkan mitigasi jangka panjang.
Ada rencana besar untuk memindahkan pemukiman warga, khususnya yang berada di Dusun Sarah Gala, ke daratan yang lebih tinggi.
Langkah ini diambil agar trauma banjir bandang tahun lalu tidak terulang kembali.
“Karena kalau di sini (Dusun Sarah Gala) rawan banjir,” pungkas Rudi menjelaskan alasan pentingnya relokasi tersebut.
Dengan target penyelesaian di bulan Maret, masyarakat Desa Sahraja berharap Idul Fitri tahun ini bisa menjadi simbol kemenangan—bukan hanya setelah sebulan berpuasa, tapi juga kemenangan atas bencana yang sempat melumpuhkan hidup mereka.
Baca Juga: Strategi WFA Ramadan 2026: Upaya Pemerintah Urai Mudik dan Dongkrak Ekonomi Kampung Halaman
