“WNI harus menghindari tempat-tempat yang menjadi target serangan dan mengikuti seluruh arahan dari perwakilan RI setempat. Jika situasi semakin tidak kondusif dan membahayakan, maka opsi evakuasi harus segera dipersiapkan dan dilaksanakan,” tegas Syamsu.
Lebih lanjut, Syamsu Rizal meminta Kemlu tidak hanya sekadar memantau, tetapi juga menyusun kajian strategis berupa peta aktual kondisi keamanan. Data ini nantinya diperlukan oleh TNI dan pemangku kepentingan lainnya jika operasi penyelamatan diperlukan.
Hal ini dinilai mendesak mengingat banyaknya titik api konflik global yang bermunculan secara bersamaan.
“Menilik eskalasi yang terus berkembang, bukan hanya AS-Iran, Pakistan-Afghanistan, dan Al-Jazair-Maroko, tapi juga di ASEAN, antara Kamboja-Thailand dan beberapa kawasan lainnya,” imbuhnya.
Di sisi lain, Indonesia melalui Komisi I DPR tetap mendorong pemerintah untuk mengedepankan jalur diplomasi dan menyerukan agar semua pihak menahan diri demi mencegah perang terbuka yang lebih luas di kawasan tersebut.
Baca Juga: Indonesia-Pakistan Pererat Kerja Sama Pertahanan dan Dukungan KTT D8










