Iran Tutup Selat Hormuz: Krisis 2026 Bisa Lebih Parah dari 2008 dan 2022

Oplus_16908288

KETEGANGAN geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global. Penutupan Selat Hormuz bukan sekadar isu regional, melainkan potensi gangguan terhadap “urat nadi” distribusi minyak dunia.

Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati jalur sempit tersebut. Jika aliran itu terhambat, dampaknya bukan hanya lonjakan harga—melainkan efek berantai yang dapat mengguncang ekonomi dunia, termasuk Indonesia.

Untuk memahami seberapa serius situasi ini, kita perlu membandingkannya dengan dua krisis besar sebelumnya: krisis minyak 2008 dan krisis energi 2022.

Krisis 2008: Harga Meledak karena Permintaan dan Spekulasi

Pada 2008, harga minyak dunia melonjak hingga sekitar US$147 per barel. Namun lonjakan itu tidak disebabkan oleh penyumbatan jalur pasokan global.

Pemicunya adalah kombinasi permintaan tinggi dari negara berkembang seperti China, lemahnya dolar AS, dan spekulasi besar di pasar komoditas.

Artinya, krisis 2008 lebih merupakan krisis harga daripada krisis distribusi fisik minyak.

Dampaknya ke Indonesia sangat terasa. Pemerintah menaikkan harga BBM secara signifikan. Inflasi melonjak hingga dua digit. Daya beli masyarakat melemah. Rupiah tertekan karena bersamaan dengan krisis finansial global.

Rantai sebab-akibatnya jelas:

Lonjakan harga minyak → Harga BBM naik → Inflasi meningkat → Konsumsi melemah → Pertumbuhan ekonomi tertekan.

Namun ketika krisis finansial global mereda dan permintaan turun, harga minyak ikut jatuh drastis. Artinya, krisis 2008 bersifat siklikal dan dipicu faktor permintaan serta gelembung pasar.

Krisis 2022: Gangguan Pasokan Nyata Akibat Perang

Tahun 2022 berbeda. Invasi Rusia ke Ukraina dan sanksi Barat terhadap Rusia memicu gangguan pasokan energi, terutama untuk Eropa. Harga Brent kembali melonjak hingga kisaran US$120–130 per barel.

Kali ini, bukan spekulasi yang dominan, melainkan gangguan nyata pada produksi dan distribusi energi dari salah satu eksportir terbesar dunia.

Indonesia kembali terdampak. Harga BBM non-subsidi naik. Subsidi energi membengkak. APBN tertekan. Pemerintah menahan harga BBM bersubsidi cukup lama sebelum akhirnya melakukan penyesuaian.

Rantai sebab-akibatnya:

Perang & sanksi → Gangguan pasokan regional → Harga minyak naik → Subsidi membengkak → Tekanan fiskal meningkat.

Namun, jalur distribusi global tidak benar-benar lumpuh. Minyak Rusia tetap mengalir ke pasar lain melalui jalur alternatif. Pasar global melakukan penyesuaian.

Potensi 2026: Jika Selat Hormuz Benar-Benar Ditutup

Ancaman terhadap Selat Hormuz membawa dimensi yang berbeda. Jika 2008 adalah krisis harga dan 2022 adalah krisis pasokan regional, maka penutupan Selat Hormuz berpotensi menjadi krisis sistem distribusi global.

Sekitar 20 persen minyak dunia melewati jalur tersebut setiap hari. Tidak ada jalur alternatif yang sepenuhnya mampu menggantikan volumenya dalam waktu singkat. Jika aliran terganggu, dunia menghadapi shock simultan pada pasokan dan distribusi.

Rantai sebab-akibatnya bisa menjadi lebih cepat dan lebih keras:

Penutupan jalur utama → Pasokan global menyusut mendadak → Harga melonjak tajam → Biaya energi melonjak secara global → Inflasi meningkat serentak → Risiko resesi meningkat.

Berbeda dengan 2008, ini bukan gelembung spekulasi.

Berbeda dengan 2022, ini bukan sekadar sanksi terhadap satu negara.