Pergiku

Pergiku

PERGIKU bukan tanda menyerah. Bukan pula akhir dari segala harapan yang pernah kita semai di musim-musim yang kini tinggal kenangan.

Aku hanya sedang belajar menerima bahwa tidak semua cinta ditakdirkan untuk saling memiliki.

Aku pernah mengetuk pintu hatimu dengan doa-doa yang lirih, menunggu dengan sabar seperti senja yang setia menanti malam.

Namun, ada pintu yang memang tidak pernah diciptakan untuk kubuka, sekeras apa pun aku mengetuknya.

Maka, izinkan aku pergi. Bukan karena cintaku telah habis, melainkan karena aku terlalu mencintaimu untuk terus memaksamu tinggal.

Sebab cinta yang sejati tidak pernah tumbuh dari paksaan. Ia mekar dari kerelaan, dari dua hati yang saling memilih tanpa tekanan.

Aku akan membawa namamu dalam diam, sebagaimana angin membawa harum bunga tanpa pernah meminta bunga itu mengenali arah datangnya.