Luluh Lantak

Luluh Lantak

BETAPA sering kita mengira bahwa cinta berakhir karena hadirnya orang ketiga, karena jarak, waktu, atau takdir yang dianggap terlalu kejam.

Padahal, yang paling sunyi justru adalah ketika dua hati masih saling mengingat, tetapi tak lagi berjalan menuju tujuan yang sama.

Mereka masih mengenal nama satu sama lain dan hidup bersama seperti orang yang mencinta.

Namun kesadaran kadang tidak sanggup membuka tabir, bahwa sejatinya dua insan telah menjadi asing dalam haluannya.

Cinta sejatinya bukan sekadar pertemuan dua jiwa, melainkan kesediaan untuk menempuh jalan yang sama.

Selama arah itu masih satu, badai sebesar apa pun dapat dilalui bersama.

Namun ketika kompas hati mulai menunjuk ke arah yang berbeda, bahkan langit yang cerah pun tak mampu menyelamatkan sebuah hubungan dari keruntuhan.

Ah sial… Asmaraloka yang telah luluh lantak sekarang hanya menjadi saksi yang tak sanggup dibantah bahwasanya harapan, kepercayaan, dan janji-janji pernah diikrarkan.

Di dalamnya tumbuh tawa, doa, air mata, juga impian yang dirangkai perlahan. Namun sebuah dunia tak selalu hancur oleh gempa.

Ada kalanya ia roboh karena fondasinya diam-diam retak, sementara para penghuninya sibuk berjalan menjauh tanpa pernah benar-benar menyadarinya.

Yang paling menyakitkan bukanlah perpisahan itu sendiri. Luka terdalam justru lahir ketika kita sadar bahwa seseorang yang dahulu menggenggam tangan dengan penuh keyakinan kini memilih melepaskannya, bukan karena kehilangan rasa, melainkan karena telah menemukan tujuan yang berbeda.