Lampaui Pertumbuhan Ekonomi Nasional, Industri Pengolahan Perkokoh Posisi RI di Peringkat 13 Dunia

/Dok. Kemeperin

“Kami berkomitmen mendorong transformasi industri furnitur tidak hanya sekadar produsen namun juga menjadi pusat manufaktur global yang berbasis desain dan keberlanjutan,” kata Putu pada pembukaan Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2026 di Jakarta.

Menjawab Tantangan Global dan Modernisasi

Meski tumbuh positif, sektor furnitur menghadapi tantangan berupa penurunan ekspor sebesar 3 persen dan kenaikan impor 6 persen pada tahun 2025.

Pemerintah merespons kondisi ini dengan program restrukturisasi mesin yang telah memfasilitasi 35 perusahaan dengan nilai reimburse mencapai Rp26,1 miliar.

Langkah ini terbukti meningkatkan mutu produk sebesar 36,28 persen dan lonjakan produktivitas hingga 32,65 persen.

Selain itu, Indonesia mengandalkan Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK) untuk menembus hambatan regulasi lingkungan global seperti European Union Deforestation Regulation (EUDR).

Sinergi Bersama Pelaku Industri

Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur, mengapresiasi dukungan pemerintah dalam menjaga ketersediaan bahan baku dan fasilitasi teknologi.

“Kami sangat mengapresiasi kolaborasi dengan Kementerian Perindustrian, terutama dalam menjaga ketersediaan bahan baku dan fasilitasi teknologi. Sinergi ini sangat penting agar produk anggota kami tidak hanya kuat di pasar domestik, namun juga mampu bersaing secara adil di kancah internasional sebagai produk yang berkualitas dan berkelanjutan,” tutur Abdul Sobur.

Ke depan, Kemenperin akan fokus pada lima pilar utama, mulai dari penyediaan SDM terampil hingga insentif fiskal seperti tax holiday, guna memastikan industri furnitur nasional tetap menjadi pemain kunci dalam rantai pasok global.