Adapun rincian perintah langsung Jenderal Agus Subiyanto dalam telegram tersebut meliputi:
- Pengamanan Objek Vital: Panglima Komando Utama Operasi (Pangkotamaops) diperintahkan menyiagakan personel dan alutsista untuk patroli di objek vital strategis (bandara, pelabuhan, stasiun, terminal, dan kantor PLN) serta sentra perekonomian.
- Pengawasan Udara 24 Jam: Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) wajib melakukan deteksi dini dan pengamatan wilayah udara secara terus-menerus.
- Evakuasi WNI: Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI menginstruksikan Atase Pertahanan di wilayah terdampak konflik untuk memetakan dan merencanakan evakuasi WNI berkoordinasi dengan Kemlu dan KBRI setempat.
- Sterilisasi Ibu Kota: Kodam Jaya diperintahkan mengintensifkan patroli di kedutaan besar dan area strategis di Jakarta demi menjaga kondusivitas wilayah.
- Deteksi Dini Intelijen: Satuan Intelijen TNI diminta melakukan pencegahan dini terhadap pergerakan kelompok-kelompok yang berpotensi mengganggu keamanan di objek vital dan area diplomatik.
Kesiagaan Seluruh Matra
Telegram ini ditujukan kepada seluruh pucuk pimpinan matra, mulai dari KSAD, KSAL, KSAU, hingga jajaran Badan Pelaksana Pusat (Balakpus) untuk tetap bersiaga di satuan masing-masing.
”Langkah ini diambil guna mengantisipasi segala kemungkinan dampak atau rambatan kondisi global terhadap keamanan di dalam negeri,” bunyi petikan instruksi dalam laporan tersebut, menegaskan bahwa TNI tidak ingin kecolongan terhadap dinamika geopolitik yang bergerak cepat.
Hingga saat ini, situasi nasional dilaporkan masih terkendali, namun seluruh prajurit diminta tetap berada dalam posisi siap tempur dan siap operasi guna menghadapi segala kemungkinan eskalasi.









