Alih-alih digunakan untuk sektor produktif, dana tersebut justru habis untuk intervensi pasar demi menjaga stabilitas kurs secara semu.
Kondisi ini membuat pertahanan moneter Indonesia menjadi rapuh ketika terjadi guncangan eksternal, seperti konflik Iran yang memicu kenaikan harga minyak dunia.
Secara historis, pelemahan rupiah hingga 20 persen bukanlah hal yang mustahil. Dengan posisi kurs saat ini yang mendekati Rp17.000, lonjakan ke Rp20.400 dipandang sebagai ancaman nyata dalam tiga hingga enam bulan ke depan.
Jika situasi global kian ekstrem, sejarah kelam krisis 1997 yang memaksa Indonesia meminta bantuan IMF bisa saja terulang kembali apabila pemerintah tidak segera memperkuat fundamental ekonomi secara riil.[dit]











