“Sebanyak 15 orang meninggal dunia (dalam) serangan di Kembru tersebut,” ungkap Natalius Pigai dalam jumpa pers di kantor Kementerian HAM, Senin (20/4).
Pigai mendorong transparansi penuh dalam proses hukum. Menurutnya, karena peristiwa terjadi pada siang hari, identitas pelaku seharusnya tidak menjadi misteri bagi masyarakat setempat maupun saksi mata.
“Peristiwa itu terjadi siang hari pelakunya sudah tahu. Itu tidak bisa diperdebatkan. Pelakunya rakyat sudah tahu, mereka yang menjadi korban tahu, mereka yang ada di masyarakat lokasi tempat juga sudah tahu. Ya sekarang silakan, jangan sembunyikan, harus dibuka,” tegas Pigai.
Upaya Masuk ke Zona Konflik
Saat ini, tim Komnas HAM masih berupaya menembus dua distrik yang masih dilanda konflik untuk melakukan pendalaman data secara utuh.
Saurlin P. Siagian berharap agar kekerasan di tanah Papua dapat segera dihentikan demi mencegah jatuhnya korban sipil tambahan.
“Kita harus mengingat peristiwa Puncak ini sebagai peristiwa tragedi kemanusiaan dengan meninggalnya 15 orang ini dan tujuh orang luka-luka, kita berharap tidak ada lagi korban berikutnya,” pungkas Saurlin.
Kementerian HAM dan Komnas HAM berkomitmen untuk terus mengawal kasus ini hingga pelaku penembakan terungkap dan motif di balik tragedi tersebut menjadi terang benderang bagi publik.










