“Sekolah wajib menjadi wadah pembentukan karakter yang kokoh agar para pelajar memiliki daya tangkal terhadap budaya kekerasan,” tegas Ryan.
Ia juga menambahkan bahwa minimnya perhatian orang tua sering kali menjadi celah bagi remaja untuk bergabung dengan kelompok negatif demi mendapatkan pengakuan eksistensi.
Pemerintah Kota Banjarmasin kini tengah mengakselerasi berbagai langkah preventif untuk memitigasi risiko tersebut. Melalui penguatan literasi digital, kegiatan Pramuka, hingga implementasi Program 7
Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH), sekolah diharapkan mampu mencetak generasi yang tangguh secara emosional dan peduli secara sosial.
Dengan pendekatan kolaboratif antara tenaga pendidik dan orang tua, visi untuk menciptakan masa depan pemuda yang cemerlang tanpa bayang-bayang kekerasan diharapkan dapat segera terwujud.[dit]











