Kehancuran kilang minyak dan gas di timur tengah karena balistik Iran, faktor utamanya adalah ulah Israel dan AS yang dengan kalkulasi yang salah menyerang kilang minyak Iran terlebih dahulu dengan asumsi Iran akan jatuh. Lalu prediksi mereka meleset. Dan dunia menanggung akibatnya hingga saat ini.
Fars Gas Field Iran diserang, ini kilang minyak paling berharga bagi Iran, dan AS juga waktu itu mengancam menyerang Pulau Kharg yang menjadi pusat ekspor minyak Iran keluar negeri. Walaupun tidak jadi dilakukan.
Siapa yang memulai kecerobohan dalam perang dan siapa yang memulai menyerang membabi buta? Dari kilang minyak, infrastruktur sipil, jembatan, sampai sekolah SD dan sekolah TK di Iran? Pelaku nya adalah penjahat perang Israel dan AS.
Kalau hari ini Iran membalas habis habisan sebagai balas dendam, maka ini sah dan siapapun yang menanggung akibatnya bukan urusan Iran lagi. Tanyakan siapa yang memulai serangan ke Iran 28 Febuari 2026 lalu?
Kalau hari ini Iran menutup selat Hormuz, membakar kapal yang lewat, menenggelamkan kapal musuh, membidik siapapun yang melanggar aturan Iran di selat Hormuz, maka tanyakan AS dan Israel sebagai penyebab utama ini terjadi.
Jika saat ini Iran menghancurkan kilang minyak, gas dan apapun yang mengancam Iran, maka itu sah dilakukan Iran untuk mempertahankan diri dari agresi. Dunia perlu meminta pertanggungjawaban kepada AS dan Israel, bukan ke Iran.
Iran saat ini telah lama bersabar, dibom, diserang, diagresi, dibunuh rakyatnya, pemimpinnya, dibunuh anak anak kecil mereka, Iran telah lama bersabar.
Kondisi saat ini sangat lain, Iran akan habis habisan berperang dan kali ini memang mereka berperang dengan keberanian, kesabaran, dan dengan tekad yang bulat.
Itulah kenapa, jangankan negara teluk, Trump, AS, Israel sampai Netanyahu pun saat ini tidak akan mampu membendung Iran, mereka tidak akan mampu menundukkan Iran.
Saat ini, AS mau mengakui kalah dan keluar dari perang ini saat ini juga, atau mereka memilih membuang waktu dan keluar lebih lama lagi dengan kerugian yang lebih besar. Tidak ada pilihan lain.[***]
Penulis: Tengku Zulkifli Usman, Pengamat Geopolitik Internasional











