Kondisi makin memprihatinkan bagi pekerja lulusan SD ke bawah yang rata-rata hanya mengantongi Rp2,23 juta, serta kelompok usia 15–19 tahun dengan pendapatan sekitar Rp1,99 juta.
Visualisasi triliunan rupiah di ruang publik dianggap sangat kontras dengan kehidupan 59,42 persen pekerja sektor informal yang hingga kini belum memiliki kepastian penghasilan.
Saat jutaan rakyat harus menghitung pengeluaran harian dengan ekstra ketat untuk kebutuhan pokok, parade uang tersebut justru terasa seperti pertunjukan kemewahan yang jauh dari realitas hidup masyarakat bawah.
Bagi FORSIBER, keberhasilan pemberantasan korupsi seharusnya diukur dari transformasi kualitas hidup masyarakat, bukan sekadar spektakel visual di depan kamera.
Tingginya angka pengangguran usia muda yang mencapai 16,36 persen menjadi bukti nyata bahwa fondasi ekonomi nasional masih memerlukan penanganan serius daripada sekadar pencitraan institusional.
Tanpa kehadiran negara yang nyata dalam menstabilkan harga kebutuhan pokok dan menyediakan lapangan kerja, tumpukan uang sitaan tersebut hanya akan menjadi simbol kesenjangan emosional antara elite politik dan rakyat kecil yang berjuang bertahan hidup.[dit]











