Menurut Efriza, kegagalan dalam mengawasi distribusi kebutuhan dasar mencerminkan rendahnya sensitivitas kebijakan terhadap rakyat kecil. Jika tren kenaikan harga ini terus berlanjut, sentimen negatif masyarakat akan semakin menguat.
Lebih jauh lagi, kegagalan tata kelola pangan ini dikhawatirkan bakal merusak narasi besar swasembada pangan yang diusung oleh pemerintah.
Publik tidak akan lagi melihat perombakan kabinet atau penambahan kursi wamen sebagai solusi konkret jika stabilitas harga di pasar tradisional tidak segera terwujud.
Fokus pemerintah kini diuji: apakah mampu menghadirkan aksi nyata atau hanya sekadar menambah struktur birokrasi tanpa hasil yang dirasakan rakyat.[dit]











