“Skema jemput layanan ini diprioritaskan untuk membantu jemaah lansia, disabilitas, dan jemaah dengan risiko kesehatan tinggi,” jelas Maria. Setelah proses transaksi rampung, jemaah akan langsung mendapatkan bukti bayar sah yang terafiliasi ke dalam sistem digital.
Sejalan dengan itu, Maria mewanti-wanti seluruh jemaah agar menutup celah bagi para pelaku kriminal penipuan berkedok pemotongan hewan kurban/dam.
“Kami mengimbau jemaah agar tidak menggunakan jasa calo atau pihak yang tidak berwenang. Ini penting untuk melindungi jemaah sekaligus memastikan dana dikelola secara transparan dan ibadah berjalan sesuai syariat,” tegasnya secara lugas.
Jaga Kondisi Fisik Menuju Armuzna
Di samping pembenahan administrasi dam, Kemenhaj juga menitipkan pesan krusial mengenai mitigasi faktor kesehatan jemaah menjelang fase puncak di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Mengingat tantangan fisik yang berat, jemaah diimbau untuk mulai menghemat energi, rutin berjalan kaki ringan sesuai kapasitas, serta menjaga tingkat hidrasi tubuh.
Bagi kelompok terbang rentan seperti lansia dan penyandang disabilitas, koordinasi aktif dengan tim medis di lapangan menjadi hal yang wajib dilakukan jika merasakan keluhan fisik sekecil apa pun.
Kemenhaj pun menutup keterangannya dengan memberikan apresiasi tertinggi kepada para petugas haji yang terus bersiaga secara totalitas baik di domestik maupun di Arab Saudi.
“Jaga kesehatan, biasakan berjalan kaki, kurangi aktivitas yang tidak mendesak, dan ikuti arahan petugas demi kelancaran ibadah haji. Semoga seluruh jemaah Indonesia diberikan kesehatan, kemudahan, dan memperoleh haji yang mabrur,” tutup Maria.









