“Hal pertama yang kami lakukan adalah meningkatkan dan memaksimalkan produksi domestik minyak dan gas,” kata Oki membocorkan prioritas kerja korporasi.
Mitigasi Risiko Lewat Partnership dan Teknologi AI
Guna memuluskan target tersebut, Pertamina menempatkan aspek kolaborasi sebagai pilar utama untuk memitigasi industri hulu yang padat modal dan berisiko tinggi (high risk, high capital). Melalui kemitraan, perusahaan dapat saling berbagi keahlian teknis dan pengetahuan demi menekan potensi kerugian bisnis.
Saat ini, Pertamina mengonfirmasi telah mengikat kerja sama erat dengan berbagai raksasa energi global.
“Kami membutuhkan partnership. Kami memiliki banyak perusahaan mitra yang sangat andal,” tuturnya.
Di samping itu, sinergi regulasi bersama pemerintah menjadi faktor penentu kenyamanan investasi. Ketika tingkat pengembalian investasi (rate of return) di lapangan mulai terbatas, investor membutuhkan stimulus berupa perpanjangan masa kontrak (konsesi), penyesuaian skema bagi hasil (split), hingga guyuran insentif fiskal dari negara.
Aplikasi teknologi modern juga memegang peranan krusial guna memotong biaya operasional.
Oki mencontohkan bagaimana korporasi energi dunia kini mulai mengadopsi kemampuan supercomputer dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk memetakan titik eksplorasi serta membantu pengambilan keputusan agar lebih presisi.
Indonesia dinilai masih menyimpan harta karun menjanjikan pada sektor sumber daya migas nonkonvensional serta penerapan metode Enhanced Oil Recovery (EOR).
Untuk menguras potensi tersebut, Pertamina terus memacu pemanfaatan teknologi chemical EOR dan reaktivasi sumur-sumur produksi eksisting.
“Indonesia memiliki peluang yang sangat besar. Jadi, bagi para investor, engineer, maupun regulator, Indonesia menawarkan begitu banyak peluang yang dapat dikembangkan,” tutup Oki.
Baca Juga: Terbang Sambil Belanja, Produk UMKM Pertamina Kini Mengudara Lewat Pelita Air











