Fakta Nasional

Parah! Prabowo Hanya Sentil TNI–POLRI Jadi Beking, Tapi Tutup Mata Terhadap Kejaksaan

KETEGASAN Presiden Prabowo Subianto yang mengingatkan anggota TNI dan Polri agar tidak menjadi pelindung para koruptor langsung memantik diskusi hangat di tengah masyarakat. Namun, agar komitmen ini benar-benar dipercaya dan menyentuh rasa keadilan…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: M. Sahlan Editor: Redaksi 📍 Nasional Saturday, 23 May 2026 📖 2 menit
Parah! Prabowo Hanya Sentil TNI–POLRI Jadi Beking, Tapi Tutup Mata Terhadap Kejaksaan
Presiden Prabowo Subianto. (Dok. Ist)

KETEGASAN Presiden Prabowo Subianto yang mengingatkan anggota TNI dan Polri agar tidak menjadi pelindung para koruptor langsung memantik diskusi hangat di tengah masyarakat.

Namun, agar komitmen ini benar-benar dipercaya dan menyentuh rasa keadilan masyarakat, ketegasan serupa semestinya tidak berhenti di barak militer atau kantor polisi saja.

Langkah bersih-bersih ini sudah saatnya menyasar ke seluruh instansi yang memegang kewenangan besar, termasuk Kejaksaan.

Sebab, integritas dalam mengelola negara tidak pernah memandang warna seragam. Jika korupsi bisa tumbuh subur karena adanya perlindungan, akses istimewa, dan jaringan kekuasaan, maka semua lembaga penegak hukum harus berani diukur dengan standar moral yang sama.

Dalam beberapa tahun terakhir, Kejaksaan telah tumbuh menjadi salah satu institusi paling berpengaruh di tanah air. Kewenangannya meluas, perannya dalam menangani kasus-kasus kakap sangat dominan, dan keputusannya kian menentukan nasib dunia usaha.

Perkembangan ini tentu bisa menjadi kabar baik bagi penguatan hukum, namun ada konsekuensi etis yang tidak boleh ditawar. Semakin besar kuasa yang digenggam, semakin tinggi pula tuntutan untuk menjaga jarak dari kepentingan pribadi dan bisnis.

Fakta di lapangan justru menunjukkan betapa mesranya para pimpinan di lingkungan Kejaksaan Agung dengan figur konglomerat tertentu melalui yayasan, perusahaan, keluarga, dan program-program institusi.

Secara etika dan hukum, peleburan antara program negara dan bisnis keluarga ini patut diduga telah melanggar batas-batas kepatutan.

Langkah tersebut dinilai menabrak UU Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan serta UU Nomor 28 Tahun 1999 yang mengharamkan nepotisme demi keuntungan kroni.

Kondisi ini juga mengabaikan Peraturan Kejaksaan RI Nomor 4 Tahun 2024 tentang Kode Perilaku Jaksa, yang tegas meminta setiap jaksa menghindari situasi yang bisa membuat publik ragu akan kemurnian penegakan hukum.

Bagi sebuah lembaga penegak hukum, pembelaan formal dengan kalimat "tidak ada kerugian negara" atau "belum terbukti melanggar hukum" tidak lagi cukup untuk menenangkan rasa keadilan publik.

Penegak hukum memikul tanggung jawab moral yang jauh lebih tinggi. Ia tidak hanya dituntut untuk jujur di dalam, tetapi juga harus terlihat benar-benar bersih dan adil dari luar.

Setiap struktur yang mempertemukan pejabat aktif dengan pelaku usaha wajib memiliki transparansi yang jelas, termasuk keberanian pejabat untuk mundur atau menarik diri jika ada keputusan yang menyentuh lingkaran pribadinya.

Melalui kegelisahan ini, masyarakat sebenarnya tidak sedang menuduh tanpa dasar atau meminta Kejaksaan memutus seluruh silaturahmi sosialnya.

Harapan publik adalah jangan sampai ada satu institusi pun di negeri ini yang diperlakukan seolah-olah kebal hukum dan tidak boleh dipertanyakan.

Jika TNI dan Polri dituntut tanpa ampun untuk berbenah dan menjauhi konflik kepentingan, Kejaksaan pun harus memiliki keberanian untuk menunjukkan pagar etiknya sendiri.

Niat baik Presiden Prabowo untuk mengakhiri budaya beking di Indonesia akan berjalan selaras dengan harapan rakyat jika ia bersedia melihat lebih luas. Bukan cuma ke barak dan markas kepolisian, tetapi juga ke setiap ruang di mana kekuasaan dan bisnis mulai berkelindan.

Jakarta, 21 Mei 2026

Oleh: HAMDI PUTRA (Forum Sipil Bersuara/FORSIBER)


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK