“Anggaran yang sudah dikeluarkan Kementerian Dikdasmen Rp2 triliun yang sudah dicairkan. Masih ada lagi kira-kira Rp1,8 sampai Rp1,9 triliun,” tambahnya.
Meskipun kerusakan fisik bangunan tergolong masif dan beberapa infrastruktur pendukung seperti jembatan penghubung masih membutuhkan penanganan lanjutan, Tito menyatakan kegiatan belajar mengajar di sebagian besar wilayah Sumatra tetap berjalan dengan mengandalkan berbagai penyesuaian darurat.
“Dari 4.922 sekolah, ada beberapa sekolah yang ada di tenda, terutama di daerah merah yang diharap relokasi,” ujar Tito.
Saat ini, pemerintah pusat dan daerah tengah mematangkan kesiapan lahan baru untuk merelokasi sekolah-sekolah yang teridentifikasi berada di zona merah atau kawasan rawan bencana tinggi.
Menunggu proses pembangunan gedung permanen yang baru rampung, para siswa untuk sementara waktu dialihkan mengikuti proses pembelajaran di fasilitas darurat, tenda penampungan, maupun menumpang di sekolah terdekat lainnya.
“Ada juga yang menumpang di sekolah yang lain. Ada juga yang di kelas darurat,” pungkas Tito.
Baca Juga: Mendagri Tito Karnavian Evaluasi Progres Pemulihan Pascabencana di Aceh











