“Karena tangki besar itu sehingga kemampuan negara untuk membangun langsung kan pasti terbatas, apalagi kan ini hanya dipakai di saat kondisi krisis dan darurat. Maka jalan keluarnya adalah kita mengidentifikasi tangki-tangki yang idle, ya yang idle tapi masih bisa diperbaiki itu dijadikan bagian daripada cadangan penyangga energi. Jadi kalau ditotal ya bisa sampai 9 juta barel,” tambahnya. Meski begitu, ia menekankan seluruh fasilitas tersebut wajib melewati proses verifikasi dan perbaikan teknis terlebih dahulu.
Mitigasi Pra-Krisis dan Rencana Ekspansi di Sumatera
Hingga saat ini, Indonesia beruntung karena belum pernah berada dalam status krisis energi yang mengharuskan penggunaan CPE.
Gejolak pasokan yang terjadi selama ini masih dikategorikan sebagai tahap prakrisis, sehingga pemerintah bisa melakukan mitigasi kilat lewat jalur diplomasi.
Sebagai contoh, saat pasokan dari Timur Tengah sempat terhambat akibat ketegangan geopolitik, Presiden langsung melakukan lobi internasional.
Pemerintah berharap bisa mengamankan sekitar 150 juta barel minyak dari Rusia demi mempertebal cadangan operasional domestik.
Untuk cadangan operasional harian, Satya menyebut kapasitas saat ini sebenarnya masih memadai. Namun, Kementerian ESDM di bawah kepemimpinan Bahlil Lahadalia sudah berencana memperpanjang daya tahan cadangan operasional tersebut hingga mampu menopang kebutuhan dalam negeri selama satu bulan penuh.
“Pak Bahlil mengatakan bahwa nanti cadangan storage itu akan ditambah hingga bisa sampai 30 hari untuk cadangan operasional itu,” pungkas Satya. Proyek penambahan kapasitas penampungan baru tersebut direncanakan akan dibangun di Pulau Sumatera.
Baca Juga: Bongkar Modus Sistem Ranjau Polda Kalbar Ancam Pelaku Peredaran Gelap Narkotika dengan Hukuman Mati











