“Kalau nanti B50 digunakan dan sektor industri juga menggunakan B50, itu bisa menjadi salah satu pilot project bagi ketahanan energi,” tuturnya.
Pemicu Investasi Baru dan Efek Berganda
Lebih jauh lagi, Hendry memprediksi implementasi B50 akan menjadi stimulus kuat bagi pertumbuhan industri biodiesel di dalam negeri.
Lonjakan permintaan bahan bakar nabati ini diyakini akan membuka keran investasi baru, meningkatkan utilisasi pabrik pengolahan biodiesel, serta menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang positif bagi sektor perkebunan kelapa sawit dan kesejahteraan petani.
Dengan keberanian mengambil langkah ini, Indonesia juga berpeluang besar untuk mengukuhkan posisi sebagai pemimpin global dalam pemanfaatan energi terbarukan berbasis sawit.
“Indonesia juga berpeluang menjadi pionir dalam penerapan biodiesel dengan campuran tinggi. Sejumlah negara masih menerapkan kadar biodiesel lebih rendah, seperti Malaysia yang berada di kisaran B10 hingga B20, Thailand sekitar B20, serta sejumlah negara Eropa yang menggunakan campuran sekitar 7 sampai 10 persen,” demikian pungkas Hendry.











