Jejak Ibn Battuta di Afrika Timur: Mengungkap Kejayaan Kota-Kota Islam yang Pernah Menguasai Perdagangan Dunia

Jejak Ibn Battuta di Afrika Timur: Mengungkap Kejayaan Kota-Kota Islam yang Pernah Menguasai Perdagangan Dunia/(Net)

Tentang Kilwa, ia menulis bahwa kota tersebut termasuk salah satu kota paling indah yang pernah dikunjunginya.

Pernyataan tersebut memiliki bobot besar mengingat sebelumnya Ibn Battuta telah mengelilingi dunia Islam dan mengunjungi kota-kota besar seperti Baghdad maupun Konstantinopel.

Salah satu bangunan paling mengesankan di Kilwa adalah Husuni Kubwa atau Istana Agung yang dibangun sekitar dekade 1320-an hingga 1330-an.

Kompleks istana tersebut merupakan bangunan batu terbesar di Afrika bagian selatan Gurun Sahara pada masanya.

Di dalamnya terdapat sekitar seratus ruangan, halaman luas, hingga kolam renang yang menunjukkan tingkat kemajuan arsitektur pesisir Swahili pada abad pertengahan.

Hingga kini, reruntuhan Kilwa telah ditetapkan UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia karena nilai sejarahnya yang sangat tinggi.

Kisah lain yang menarik perhatian Ibn Battuta adalah kemurahan hati Sultan Kilwa, Abu al-Mawahib, yang dikenal sebagai “Bapak Pemberi Hadiah”.

Suatu hari setelah salat Jumat, seorang pria miskin meminta pakaian kebesaran sang sultan.

Di luar dugaan, Abu al-Mawahib memenuhi permintaan tersebut. Ia memasuki sebuah bangunan di dekat masjid, berganti pakaian, lalu menyerahkan seluruh busana kerajaannya kepada pria tersebut.

Tidak lama kemudian, putra sang sultan membeli kembali pakaian itu dari si penerima dengan memberikan kompensasi berupa sepuluh budak.

Saat mendengar masyarakat memuji tindakannya, Abu al-Mawahib kembali memerintahkan agar pria tersebut memperoleh sepuluh budak tambahan beserta dua muatan gading.

Walaupun praktik perbudakan pada masa itu merupakan bagian dari sistem sosial yang berlaku, kisah tersebut memperlihatkan bagaimana kemurahan hati seorang penguasa dipandang sebagai kebajikan luar biasa oleh masyarakat sezamannya.

Ibn Battuta juga mencatat bahwa Sultan Kilwa dikenal rendah hati.

Ia kerap duduk dan makan bersama masyarakat miskin, serta menyediakan dana khusus bagi para syarif yang datang dari Irak, Hijaz, dan berbagai wilayah Islam lainnya.

Catatan tersebut memperlihatkan eratnya hubungan intelektual dan keagamaan antara Afrika Timur dengan pusat-pusat peradaban Islam di Timur Tengah.

Kehidupan religius masyarakat pesisir Afrika Timur juga mendapat perhatian khusus.

Di Mogadishu, Ibn Battuta menulis bahwa para ulama, faqih, maupun keturunan Nabi Muhammad SAW yang datang ke kota itu biasanya terlebih dahulu diterima oleh sultan sebelum bermukim.

Tradisi tersebut menunjukkan penghormatan tinggi terhadap ilmu agama sekaligus memperlihatkan bahwa kota tersebut telah lama menjadi tujuan para cendekiawan Muslim dari berbagai negeri.

Meski demikian, para sejarawan modern mengingatkan bahwa The Rihla bukanlah sumber sejarah yang sepenuhnya bebas dari kekeliruan.

Sebagaimana dijelaskan Sacred Footsteps, Ibn Battuta tidak menyebut sejumlah situs penting seperti Masjid Fakr ad-Din di kawasan Hamar Weyne, Mogadishu, yang diyakini sebagai salah satu masjid tertua di Afrika.

Ia juga tidak menyinggung keberadaan Sa’id dari Mogadishu, seorang ulama sekaligus pengelana yang diduga menjadi salah satu sumber informasi mengenai Dinasti Yuan di China.

Selain itu, terdapat beberapa kesalahan geografis dalam tulisannya, termasuk penyebutan bahwa Kilwa berada di daratan utama, padahal kota tersebut sebenarnya berdiri di sebuah pulau.

Meski memiliki sejumlah kekurangan, para sejarawan tetap menilai The Rihla sebagai dokumen yang sangat penting dalam memahami sejarah Afrika Timur.

Catatan Ibn Battuta memberikan gambaran langka mengenai sebuah peradaban Islam yang makmur, kosmopolitan, serta memiliki jaringan perdagangan internasional jauh sebelum era kolonial Eropa.

Melalui kesaksiannya, dunia mengetahui bahwa pesisir Afrika Timur pernah menjadi simpul utama perdagangan global, tempat bertemunya saudagar dari Afrika, Arab, Persia, India, hingga China.

Warisan kota-kota seperti Mogadishu, Mombasa, dan Kilwa menjadi pengingat bahwa sejarah Islam tidak hanya berkembang di Timur Tengah, tetapi juga membentuk peradaban besar di berbagai penjuru dunia, termasuk Afrika Timur yang hingga kini masih menyimpan jejak kejayaan masa lalunya.[dit]