Bahkan Jeff Slaten, putra sulung korban, sempat dimintai keterangan secara mendalam karena pertengkarannya dengan sang ibu beberapa jam sebelum pembunuhan.
Jeff mengaku menyesal tidak mendengar apa pun saat ibunya diserang. Ia mengatakan seandainya terbangun, dirinya pasti akan berusaha menyelamatkan Linda.
Meski demikian, penyidik tidak menemukan motif maupun bukti yang mengarah kepada Jeff.
Pemeriksaan kemudian diperluas kepada tetangga, teman, hingga orang-orang yang pernah berinteraksi dengan Linda. Namun tidak ada satu pun yang cocok dengan jejak telapak tangan di jendela.
Akhirnya, penyelidikan memasuki masa panjang sebagai cold case. Berkas perkara hanya tersimpan di arsip kepolisian selama bertahun-tahun.
Harapan baru muncul pada 2001 ketika Detektif Brad Grice membuka kembali kasus tersebut. Ia memanfaatkan perkembangan ilmu forensik untuk menguji ulang barang bukti yang telah disimpan sejak 1981, termasuk DNA dari rape kit dan jejak telapak tangan yang sebelumnya belum berhasil diidentifikasi.
Dalam proses tersebut, Grice juga kembali menemui Jeff dan Tim yang telah dewasa.
Jeff mengungkapkan bahwa pembunuhan ibunya meninggalkan trauma mendalam. Ia mengalami depresi, sulit tidur, selalu menyimpan pisau di bawah bantal karena ketakutan, bahkan sempat putus sekolah akibat tekanan psikologis yang berkepanjangan.
Sementara itu, Tim berusaha mengatasi kesedihannya dengan terus menekuni olahraga football, aktivitas yang selama ini menjadi pelarian sekaligus sumber dukungan emosional baginya.
Penyidik kemudian mengambil sampel DNA dari berbagai orang yang pernah masuk daftar tersangka, termasuk Frank Slaten, Brandon Fowler, hingga sejumlah warga sekitar.
Namun seluruh hasil pemeriksaan tetap nihil.
DNA pelaku tidak cocok dengan siapa pun yang telah diperiksa.
Kebuntuan kembali terjadi hingga akhirnya pada 2019 muncul peluang baru melalui teknologi genetic genealogy, yakni metode yang memanfaatkan hubungan kekerabatan genetik untuk mempersempit identitas seseorang berdasarkan DNA.
Teknologi tersebut mengarahkan penyidik kepada satu nama yang sebelumnya nyaris tidak pernah mendapat perhatian serius, yakni Joseph Clinton Mills.
Setelah nama Mills muncul, polisi membandingkan jejak telapak tangannya dengan rekaman sidik yang pernah diambil dalam perkara lain pada 1984.
Hasilnya mengejutkan.
Jejak telapak tangan tersebut identik dengan yang ditemukan di jendela kamar Linda pada malam pembunuhan.
Penyidik kemudian memperoleh sampel DNA terbaru Mills secara diam-diam melalui barang yang telah dibuangnya. Hasil pemeriksaan laboratorium memastikan DNA tersebut cocok dengan DNA yang ditemukan pada tubuh Linda sejak 1981.
Saat diinterogasi, Mills sempat mengklaim hubungan seksual dengan Linda terjadi atas dasar suka sama suka. Namun penyidik menolak pernyataan itu karena seluruh bukti forensik menunjukkan adanya kekerasan yang berujung pembunuhan.
Berdasarkan rekonstruksi penyidik, Mills diduga kembali ke rumah Linda setelah mengantar Tim pulang dari latihan football.
Ia diyakini masuk melalui jendela kamar ketika rumah dalam keadaan kosong, lalu bersembunyi di dalam lemari hingga seluruh penghuni rumah tertidur.
Setelah Linda terlelap, Mills diduga menyerang korban menggunakan gantungan baju kawat, melakukan kekerasan seksual, kemudian mencekiknya hingga meninggal sebelum melarikan diri melalui jalur yang sama.
Fakta paling menyayat hati terungkap setelah identitas pelaku dipastikan.
Selama bertahun-tahun setelah pembunuhan, Mills tetap berada di sekitar kehidupan Tim Slaten sebagai pelatih football yang dihormati.
Bahkan Tim sempat menyimpan foto tim football di kamarnya yang memperlihatkan dirinya berdiri bersama Mills, tanpa pernah mengetahui bahwa pria di sampingnya adalah orang yang telah membunuh ibunya.
Pada Desember 2019, Joseph Mills resmi ditangkap. Ia kemudian mengaku bersalah atas dakwaan pembunuhan tingkat pertama serta kekerasan seksual.

Berdasarkan informasi dari Kantor Pengacara Negara Sirkuit ke-10 Florida, pada Februari 2022 pengadilan menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup tanpa kemungkinan pembebasan bersyarat kepada Mills.
Meski identitas pelaku akhirnya berhasil diungkap setelah 38 tahun, motif pasti pembunuhan Linda Slaten belum pernah dijelaskan secara utuh.
Penyidik meyakini Mills memiliki obsesi yang berbahaya terhadap korban, namun hingga kini tidak ada penjelasan lengkap mengenai alasan di balik aksi brutal tersebut.
Kasus Linda Slaten menjadi salah satu contoh bagaimana kemajuan teknologi DNA dan genetic genealogy mampu menghidupkan kembali penyelidikan yang telah lama terhenti.
Bukti-bukti yang selama puluhan tahun tersimpan akhirnya berbicara, memberikan keadilan bagi korban serta jawaban yang selama hampir empat dekade dinantikan oleh keluarganya.[dit]







