Pembagian Proyek dan Serapan Tenaga Kerja
Setelah pengerjaan tahap pertama berjalan, Danantara melanjutkan pelaksanaan Fase II yang ditandai dengan proses groundbreaking pada 29 April 2026 lalu.
Pada tahap kedua ini, terdapat 10 proyek prioritas yang tersebar di 13 lokasi dengan alokasi investasi menyentuh angka Rp116 triliun serta estimasi kebutuhan tenaga kerja hingga 26.377 orang.
Dony menegaskan bahwa integrasi industri dari hulu ke hilir ini tidak sekadar berorientasi pada pencapaian angka investasi di atas kertas, melainkan ditujukan untuk menciptakan dampak ekonomi turunan (multiplier effect) bagi daerah operasional.
“Tidak hanya menghasilkan investasi, hilirisasi ini juga menciptakan lapangan kerja, menggerakkan ekonomi daerah, dan membuat nilai tambahnya dinikmati di dalam negeri,” jelas Dony.
Cakupan Komoditas Sektor Tambang hingga Pangan
Secara terperinci, akumulasi 26 proyek strategis yang dikawal oleh Danantara tersebut mencakup diversifikasi pengolahan komoditas pada sejumlah sektor vital.
Pada klaster pertambangan dan mineral, investasi difokuskan untuk penyelesaian konstruksi smelter aluminium, baja nirkarat (stainless steel), serta pemurnian tembaga.
Sementara pada sektor energi terbarukan dan ketahanan pangan, proyek diarahkan pada pembangunan fasilitas produksi bioavtur, bioetanol, pabrik pengolahan kelapa sawit, optimalisasi industri kelapa, hingga penyediaan ekosistem peternakan ayam secara terintegrasi.
Langkah percepatan pengolahan bahan mentah di dalam negeri ini diharapkan mampu membangun kemandirian struktur industri nasional agar lebih kompetitif di pasar global, sekaligus memberikan kontribusi penerimaan negara yang berkelanjutan dalam jangka panjang.
Baca Juga: NPI Jauh Lebih Besar dari Ferronikel, DPR Ingatkan Skema Ekspor Satu pintu Danantara Harus Selektif











