IPM Naik Signifikan Angka Usia Harapan Hidup di Pontianak Sentuh Tujuh Puluh Enam Tahun

Pejabat instansi daerah memaparkan pencapaian positif indikator kesehatan dasar dan indeks pembangunan manusia di wilayah Kota Pontianak. (Dok. HO/Faktanasional)

FAKTANASIONAL.NET – Sekretaris Daerah Kota Pontianak Amirullah mengungkapkan bahwa Indeks Pembangunan Manusia di wilayahnya telah mencapai angka tinggi pada kisaran 82 pada Rabu (15/7/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan di hadapan para aparatur perencana dalam kegiatan Pendampingan Rencana Peningkatan Kinerja Bidang Kesehatan di Aula Bapperida Pontianak.

Pencapaian indeks tersebut berbanding lurus dengan tingginya indikator Usia Harapan Hidup di Pontianak yang saat ini berada pada kisaran angka 76 tahun.

“Artinya, seseorang yang lahir sekarang di Kota Pontianak memiliki harapan hidup hingga sekitar 76 tahun ke depan,” ujarnya.

Amirullah menjelaskan bahwa metode untuk mengukur keberhasilan pembangunan daerah saat ini terus berkembang menjadi jauh lebih komprehensif dari masa sebelumnya.

Pengukuran tingkat keberhasilan pembangunan pada masa lalu lebih banyak dinilai dan bertumpu pada sekadar pencapaian indikator pertumbuhan ekonomi semata.

Indikator utama di bidang kesehatan juga mengalami perubahan signifikan dari yang sebelumnya hanya mengacu pada tingginya angka kematian ibu dan bayi.

Parameter kesehatan secara nasional sejak tahun 2014 telah bergeser dan menjadikan umur harapan hidup sebagai indikator penentu utama kelayakan hidup masyarakat.

“Artinya, semakin ke sini, mengukur keberhasilan pembangunan itu semakin komprehensif dan mencakup semua aspek. Tidak hanya fisik, tetapi juga nonfisik,” ungkapnya.

Pemerintah daerah menargetkan capaian Usia Harapan Hidup di Pontianak dapat terus ditingkatkan melalui perbaikan perencanaan program pelayanan fasilitas kesehatan masyarakat.

Setiap program layanan publik di tingkat daerah wajib dirancang secara tepat sasaran serta sepenuhnya berbasis pada analisis data lapangan yang akurat.

Pemerintah daerah secara khusus menggandeng pihak eksternal untuk memberikan pendampingan teknis guna memperluas perspektif dan memperkuat kualitas perencanaan program tersebut.

“Dengan pendampingan, ada hal-hal yang tidak kita ketahui bisa dibantu oleh pendamping. Ilmu kita menjadi lebih luas,” katanya.

Amirullah berharap aparatur daerah mampu memanfaatkan program bimbingan dari kementerian dan Bank Dunia ini untuk merumuskan kebijakan yang terukur.

“Hasilnya bukan hanya daftar permasalahan, tetapi sebuah peta jalan atau roadmap yang menjelaskan akar persoalan, faktor penyebab, peluang perbaikan, serta strategi intervensi yang paling efektif,” ujarnya.

(*Red)

Exit mobile version