SEBAGAI sistem Bus Rapid Transit (BRT) pertama di Asia Tenggara, Transjakarta kini telah menjangkau 92,4% populasi Jakarta dengan volume keterangkutan yang menembus rekor 1,5 juta pelanggan per hari pada pertengahan 2026.
Berdasarkan data PT Trans Jakarta 92026), sepanjang tahun 2025, Transjakarta berhasil melayani 413 juta pelanggan dengan perluasan aksesibilitas yang masif, hingga mampu menjangkau 92,4% dari total populasi Jakarta. Catatan positif ini diimbangi dengan kinerja keselamatan operasional yang terus membaik; angka kecelakaan ( _accident rate_ ) pada tahun 2025 berhasil ditekan hingga turun sebesar 40% dibandingkan tahun 2022.
Keberhasilan jangkauan ini ditopang oleh kesiapan aspek armada dan infrastruktur yang kuat. Saat ini, Transjakarta mengoperasikan total 5.227 armada, di mana 2.978 unit di antaranya merupakan armada Mikrotrans. Seluruh armada tersebut melayani 233 rute yang mencakup koridor BRT sepanjang 409 kilometer serta rute _feeder_ (pengumpan) sepanjang 2.326 kilometer. Mobilitas pelanggan diakomodasi melalui keberadaan 245 halte BRT serta dukungan 7.346 titik pemberhentian bus ( _bus stop_ ) yang tersebar di berbagai wilayah.
Mayoritas pengguna Transjakarta sepanjang periode ini memanfaatkan layanan BRT dan Non-BRT, yaitu sebanyak 207.761.579 pelanggan (50,55%). Posisi kedua ditempati oleh layanan Mikrotrans dengan 181.689.524 pelanggan (44,12%), diikuti oleh layanan Transjabodetabek yang mencatat 21.623.357 pelanggan (5,33%).
Di sisi lain, peningkatan signifikan terjadi pada segmen pengguna Kartu Layanan Gratis (KLG) yang mencapai 25 juta ridership. Angka ini melonjak 2,3 kali lipat dalam dua tahun terakhir dan kini berkontribusi sebesar 6% dari total keseluruhan _ridership_ Transjakarta.
Berdasarkan data dari PT Transportasi Jakarta, saat ini terdapat enam skema tarif yang berlaku bagi pengguna layanan Transjakarta. Skema tersebut meliputi Tarif Ekonomis sebesar Rp 2.000 (pukul 05.00–07.00 WIB selama 2 jam), Tarif Reguler sebesar Rp 3.500 (pukul 07.00–05.00 WIB selama 22 jam), serta Tarif Mikrotrans sebesar Rp 0. Selain itu, diterapkan pula kebijakan tarif terintegrasi, yang terdiri dari Tarif Intermoda sebesar Rp 5.000 dan Tarif Integrasi Antarmoda (TransJakarta, LRT Jakarta dan MRT Jakarta) dengan plafon maksimal Rp 10.000. Transjakarta juga memperluas aksesibilitasnya melalui kebijakan Tarif Rp 0 yang dikhususkan bagi 15 golongan masyarakat penerima layanan gratis. Sementara tarif Transjabodetabek (18 rute) dan Transjabodetabek Bandara (Blok M – Bandara Internasional Soekarno – Hatta) juga Rp 3.500.
Landasan hukum pemberlakuan tarif tersebut merujuk pada regulasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang spesifik. Tarif Ekonomis dan Tarif Reguler sama-sama didasarkan pada Kepgub DKI Jakarta No. 1912/2005. Sementara itu, Tarif Mikrotrans berlandaskan SK Kadishub No. 297/2018, dan Tarif Intermoda diatur melalui Pergub DKI Jakarta No. 97/2018. Untuk sistem integrasi, Tarif Integrasi Antarmoda mengacu pada Kepgub DKI Jakarta No. 733/2022, sedangkan kebijakan penarifan Rp 0 bagi 15 Golongan Penerima Layanan Gratis ditetapkan berdasarkan Pergub DKI Jakarta No. 33/2025.
Transjakarta telah mengalami tiga fase penting sejak pendiriannya, yakji ekspansi layanan dan diversifikasi moda, peningkatan kualitas layanan, serta inovasi digital dan pengembangan bisnis. Ketiga fase strategis inilah yang berhasil membawa pertumbuhan luar biasa, dari yang semula hanya melayani 40 ribu pelanggan hingga melonjak menjadi 1,5 juta pelanggan per hari.
Biaya produksi Transjakarta menunjukkan tren peningkatan yang signifikan dalam satu dekade terakhir. Pada tahun 2015, biaya produksi tercatat sebesar Rp 1 triliun, yang kemudian meningkat menjadi Rp 1,8 triliun pada tahun 2017. Lonjakan tajam terjadi di tahun 2019 dengan realisasi mencapai Rp 3,2 triliun. Meskipun sempat mengalami sedikit penurunan pada tahun 2021 menjadi Rp3 triliun, angka ini kembali merangkak naik menjadi Rp 3,8 triliun di tahun 2023 dan mencapai Rp 4,7 triliun pada 2025. Sementara itu, dalam Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) tahun 2026, alokasi biaya produksi diproyeksikan menyentuh angka Rp 5,5 triliun.
Sejalan dengan peningkatan biaya operasional, porsi pengeluaran subsidi Transjakarta terhadap APBD Provinsi DKI Jakarta juga terus merangkak naik. Pada tahun 2015, alokasi subsidi baru menyerap 1% dari total APBD, lalu meningkat menjadi 2% pada tahun 2017. Porsi ini bertahan stabil di angka 3% pada tahun 2019 dan 2021. Memasuki tahun 2023, ketergantungan fiskal daerah terhadap subsidi ini naik menjadi 4%, meningkat lagi hingga mencapai 5% pada tahun 2025, dan diproyeksikan menyentuh angka 6% pada anggaran tahun 2026.
*Dua dekade layanan Transjakarta*
Perjalanan ini dimulai pada tahun 2004, saat Transjakarta hadir sebagai sistem Bus Rapid Transit (BRT) pertama di Asia Tenggara dengan melayani 40 ribu pelanggan per hari di Koridor 1. Transformasi kelembagaan kemudian dilakukan melalui pembentukan PT Transportasi Jakarta sebagai Bus Management Company. Langkah ini menjadi motor penggerak ekspansi yang mendongkrak jumlah keterangkutan hingga mencapai 300 ribu pelanggan per hari.
Fase berikutnya diwarnai oleh fluktuasi yang menguji resiliensi sistem. Pada Februari 2020, Transjakarta sempat mengukir rekor dengan melayani 1 juta pelanggan per hari, sebelum akhirnya merosot tajam menjadi 83 ribu per hari pada Maret 2020 akibat hantaman pandemi COVID-19. Namun, momentum kebangkitan berhasil direbut kembali melalui fokus pada peningkatan kualitas layanan. Hasilnya, pada September 2024, volume penumpang pulih kuat dan mencapai angka 1,3 juta orang per hari.
Kini, memasuki fase inovasi digital dan pengembangan bisnis yang agresif, Transjakarta sukses mengoptimalkan kinerjanya. Integrasi teknologi dan diversifikasi usaha tersebut mengantarkan Transjakarta mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada Juni 2026, yakni mencapai 1,5 juta pelanggan per hari.











