TERNYATA ada sesuatu yang lebih berbahaya daripada putus cinta.
Dia bukan perselingkuhan. Bukan pengkhianatan.
Melainkan ketika seseorang mulai percaya bahwa mencintai berarti memiliki kuasa atas hidup sang kekasih.
Di situlah sebenarnya toxic relationship dilahirkan.
Saya sengaja menggunakan kata dilahirkan, bukan terjadi. Sebab hubungan yang beracun bukanlah musibah yang jatuh dari langit.
Ia adalah produk dari perilaku yang dipelihara, dibenarkan, bahkan dirayakan. Sebuah hubungan tidak berubah menjadi racun dalam semalam.
Ia mengalami proses pembusukan. Dan setiap pembusukan selalu dimulai dari sesuatu yang dibiarkan.
Inilah yang menurut saya gagal dipahami banyak orang.
Iya-iya saya paham kok setiap semua orang pasti ingin yang terbaik untuk pasangan, tapi coba lanjutkan membacanya.
Kita terlalu sibuk membicarakan toxic relationship, tetapi malas membedah toxic relationship behavior.
Padahal, perilakulah yang membangun sebuah hubungan. Hubungan hanyalah cermin. Jika yang berdiri di depannya adalah ego, maka yang dipantulkan adalah penindasan. Jika yang berdiri adalah kedewasaan, maka yang tampak adalah kasih sayang.
Persoalannya, kita hidup di zaman yang semakin pandai menyamarkan dominasi sebagai cinta.
Kalimat, “Aku melarangmu karena aku sayang,” terdengar lembut. Namun di balik kelembutan itu tersembunyi sebuah pesan yang jauh lebih keras, aku ingin menentukan hidupmu.
Di sinilah cinta mengalami kudeta.
Ia tidak lagi berdiri sebagai ruang yang membebaskan, melainkan berubah menjadi rezim yang mengatur. Ada jam pulang. Ada daftar teman yang boleh ditemui. Ada pakaian yang boleh dikenakan. Ada media sosial yang boleh dibuka. Ada percakapan yang harus dilaporkan.
Lalu semua itu diberi nama yang indah yaitu ‘perhatian’.
Padahal sejarah selalu mengajarkan satu hal. Tidak ada kekuasaan yang tumbuh tanpa alasan yang terdengar mulia.
Negara mengekang rakyat atas nama keamanan.
Penguasa membungkam kritik atas nama stabilitas.
Begitu pula dalam hubungan. Seseorang mengendalikan pasangannya atas nama cinta.
Kalimatnya berbeda. Logikanya sama.
Yang sedang bekerja bukan kasih sayang, melainkan hasrat untuk menguasai.
Ironisnya, masyarakat justru sering menjadi penonton yang ikut bertepuk tangan.
Laki-laki yang posesif disebut setia.
Perempuan yang mengawasi setiap gerak pasangannya disebut peduli.
Hubungan yang penuh kecemburuan disebut bukti bahwa cintanya besar.
Seolah-olah ukuran cinta ditentukan oleh seberapa besar seseorang mampu mengendalikan kehidupan orang lain.
Kita lupa bahwa cinta tidak pernah lahir dari rasa takut.
Yang lahir dari rasa takut hanyalah kontrol.
Dan kontrol yang terus-menerus akan melahirkan penjara.
Masalah terbesar manusia modern bukan kekurangan cinta. Masalahnya adalah terlalu banyak orang datang ke dalam hubungan dengan membawa ego yang belum pernah dididik.
Mereka ingin dicintai, tetapi tidak mampu menghormati.
Mereka ingin dipercaya, tetapi gemar mencurigai.
Mereka menuntut kesetiaan, tetapi tidak mampu memberi rasa aman.
Mereka berbicara tentang komitmen, tetapi memperlakukan pasangan seperti barang milik pribadi.
Bukankah ini paradoks?
Kita mengaku mencintai seseorang, tetapi justru menjadi alasan mengapa orang itu kehilangan kebebasan, kehilangan keberanian berbicara, kehilangan lingkaran pertemanan, bahkan kehilangan dirinya sendiri.
Yang lebih menyedihkan lagi, semua itu sering dimulai dari hal-hal kecil yang dianggap biasa.
Satu kali memeriksa telepon.
Satu kali melarang bertemu teman.
Satu kali memaksa meminta maaf.
Satu kali mengancam akan pergi.
Satu kali membuat pasangan merasa bersalah.











