Lalu diulang.
Diulang lagi.
Dan diulang terus.
Begitulah racun bekerja.
Ia tidak membunuh dengan ledakan.
Ia membunuh dengan kebiasaan.
Saya percaya, tidak ada kekerasan yang langsung diterima manusia. Semua kekerasan terlebih dahulu dinormalisasi.
Ketika bentakan mulai dianggap karakter.
Ketika penghinaan dianggap candaan.
Ketika manipulasi dianggap cara berkomunikasi.
Ketika pengawasan dianggap perhatian.
Saat itulah akal sehat mulai kehilangan keberaniannya.
Hubungan tidak lagi dibangun atas dasar saling percaya, melainkan saling mengawasi.
Bukan saling menguatkan, tetapi saling mengendalikan.
Lalu kita bertanya mengapa angka hubungan yang gagal terus meningkat.
Jawabannya sederhana.
Karena banyak orang ingin memiliki pasangan, tetapi sedikit yang mau membangun kematangan emosional.
Mereka sibuk mencari orang yang tepat.
Padahal persoalan terbesarnya justru apakah dirinya telah menjadi orang yang layak dipercaya.
Kita terlalu sering menyalahkan karakter pasangan, tetapi jarang mempertanyakan karakter diri sendiri.
Padahal, setiap hubungan adalah tempat paling jujur untuk menguji kualitas manusia.
Di sana topeng tidak bertahan lama.
Yang muncul akhirnya bukan kata-kata manis, melainkan watak.
Dan watak tidak dibentuk ketika seseorang sedang jatuh cinta.
Watak dibentuk jauh sebelum itu—oleh keluarga, pengalaman, nilai hidup, kemampuan mengendalikan emosi, serta keberanian mengakui kesalahan.
Karena itu saya selalu beranggapan, toxic relationship behavior bukan sekadar persoalan cinta.
Ia adalah persoalan karakter.
Ia adalah persoalan kedewasaan.
Ia adalah persoalan apakah seseorang mampu memperlakukan manusia lain sebagai subjek yang merdeka, atau hanya sebagai objek yang harus tunduk pada kehendaknya.
Pada akhirnya, hubungan yang sehat tidak membutuhkan seseorang yang selalu benar.
Ia membutuhkan seseorang yang bersedia dikoreksi.
Tidak membutuhkan pasangan yang sempurna.
Ia membutuhkan manusia yang sadar bahwa mencintai bukan berarti menguasai.
Sebab cinta yang berubah menjadi kekuasaan akan selalu melahirkan perlawanan atau penderitaan.
Dan sejarah, baik dalam kehidupan bernegara maupun kehidupan pribadi, selalu membuktikan satu hal yang sama:
“Setiap kekuasaan yang lahir dari rasa takut pada akhirnya akan runtuh oleh hilangnya kepercayaan.”
Begitu pula sebuah hubungan.
Ia tidak hancur karena kurangnya kata “aku mencintaimu.”
Ia hancur karena terlalu banyak kalimat, “kamu harus menuruti aku.”
Barangkali inilah saatnya kita berhenti bertanya, “Siapa yang toxic?” dan mulai mengajukan pertanyaan yang jauh lebih mengganggu nurani:
“Apakah cara kita mencintai masih memanusiakan orang lain, atau diam-diam telah menjadikan cinta sebagai alat untuk berkuasa?”
Sebab ketika cinta berubah menjadi alat kekuasaan, yang mati bukan hanya sebuah hubungan. Yang ikut mati adalah martabat, kebebasan, dan makna cinta itu sendiri.[dit]











