Selat Bab el-Mandeb memiliki peran vital karena menghubungkan Laut Merah, Teluk Aden, Laut Arab, hingga jalur distribusi minyak dunia. Gangguan di kawasan ini dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan energi global.
Data Kpler, dikutip dari CNBC International, mencatat ekspor minyak dari terminal Yanbu, Arab Saudi, yang melintasi Bab el-Mandeb sempat mencapai 3,5 juta barel per hari pada Juni lalu, meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya sekitar 240 ribu barel per hari.
Meski JMIC masih menetapkan tingkat ancaman pada level “sedang” dan menyebut belum ada serangan baru dalam dua hari terakhir, dampaknya sudah mulai terasa.
Lalu lintas kapal di Selat Bab el-Mandeb dilaporkan turun 34 persen pada Selasa dibandingkan sehari sebelumnya.
Sementara itu, firma intelijen maritim Windward melaporkan empat kapal tanker milik Arab Saudi yang mengangkut sekitar 3,8 juta barel minyak mentah, gasoil, dan nafta memilih berbalik arah sebelum memasuki selat tersebut.
Di sisi lain, Badan Maritim Internasional (IMO) PBB mencatat sedikitnya 12 kapal telah menjadi sasaran serangan di sekitar Selat Hormuz sejak 6 Juli 2026, mengakibatkan dua pelaut tewas dan lebih dari belasan lainnya terluka.[dit]










