KALAU Badan Gizi Nasional (BGN) diibaratkan kapal perang, maka Senin, 27 Juli 2026, terdengar sirene panjang. Bukan karena diserang armada asing. Bukan pula karena Godzilla berenang dari Laut Jawa. Sirene itu berbunyi karena kapten baru memutuskan menggelar operasi sapu jagat. Judul operasinya kira-kira begini, “Yang Kotor Minggir, Yang Bersih Tetap Masak.”
Baru lima hari menjabat setelah dilantik pada 22 Juli 2026 menggantikan Nanik S. Deyang, Sudaryono langsung turun membawa sapu yang ukurannya mungkin dipinjam dari Gatotkaca. Dalam konferensi pers di Kantor BGN, ia mengumumkan aksi bersih-bersih membuat meja, kursi, sampai dispenser diduga ikut tegang.
Angkanya tidak main-main. Sebanyak 261 pegawai non-ASN diberhentikan. Rinciannya 224 pegawai non-ASN dan 37 tenaga ahli. Alasannya beragam, mulai dari dugaan pelanggaran disiplin, penyalahgunaan dana program, sampai ada disebut-sebut nyasar ke dunia judi online. Di sisi lain, sembilan ASN dan PPPK menghadapi proses pelanggaran disiplin berat berpotensi berujung pemecatan. Masih belum selesai? Ada lagi 39 ASN terkena pelanggaran ringan dengan ancaman mutasi, demosi, atau sanksi administratif. Rasanya daftar hadir hari itu lebih menegangkan dari pengumuman kelulusan ujian.
Belum sempat publik menghabiskan kopi, datang babak kedua. Sekitar 833 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diputuskan tutup permanen. Ada media menulis 883, tetapi angka paling banyak muncul adalah 833 dapur. Rinciannya 98 di Sumatera, 311 di Jawa dan Madura, serta 424 tersebar dari Kalimantan sampai Papua. Penyebabnya bukan karena diserbu alien lapar, melainkan pelanggaran higienitas, sanitasi, kualitas makanan, hingga Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dinilai tidak memenuhi syarat.
Kalau ini pertandingan sepak bola, wasit tidak lagi mengeluarkan kartu kuning. Langsung meniup peluit panjang sambil mematikan lampu stadion. Suspend kali ini bukan istirahat minum teh. Permanen. Tidak ada pembayaran lagi. Dapur-dapur itu resmi pensiun dini.
Sudaryono menyebut langkah ini sebagai bagian dari “bersih-bersih” tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program tetap berjalan, hanya jalurnya dipindahkan. Para siswa, ibu hamil, balita, dan penerima manfaat lainnya dijanjikan tetap mendapat makanan. Distribusi dialihkan ke dapur lain yang masih memenuhi standar. Ibarat bus rusak di tengah jalan, penumpang dipindahkan ke bus sehat agar tetap sampai tujuan, bukan disuruh jalan kaki sambil membawa panci.











