Diskusi Public Pulse 28 PDIP: Abigail Soroti Krisis Harapan Pemuda, Berly Ingatkan Ancaman Vietnam

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET – CoFounder What’s Up Indonesia (WIUI), Abigail Limuria, dan ekonom senior dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Berly Martawardaya, menyoroti tantangan nyata yang dihadapi generasi muda saat ini dalam forum perdana Millennium Public Pulse 28 yang difasilitasi oleh DPP PDI Perjuangan di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Selasa (28/7/2026).

Mereka menekankan pentingnya mengubah keresahan publik menjadi sebuah kepemimpinan yang progresif demi menghindari risiko “Indonesia Cemas” menjelang tahun 2045.

Abigail Limuria mengungkapkan bahwa tantangan pemuda dalam memandang politik saat ini telah bergeser. Jika pada tahun 2020 tantangan utama adalah bagaimana membangun kesadaran politik anak muda, kini kesadaran tersebut sudah terbangun dengan sangat baik.

Generasi muda saat ini telah memahami secara penuh bahwa kebijakan politik formal di parlemen maupun pemerintahan berdampak langsung pada urusan keseharian mereka, mulai dari stabilitas harga barang, kualitas pendidikan, ketersediaan lapangan kerja, birokrasi UMKM, hingga akses jaminan keamanan di media sosial.

Namun, tingginya kesadaran ini sayangnya tidak dibarengi dengan munculnya rasa optimistis, sehingga memicu apa yang disebutnya sebagai krisis harapan (crisis of hope). Banyak pemuda yang merasa aspirasi kritis mereka tidak didengar oleh sistem politik formal.

“Orang muda sekarang sudah tahu bahwa politik itu ada di mana-mana, tapi mereka enggak tahu saya sebagai warga sipil harus apa. Saking banyaknya keresahan, sampai banyak yang sudah seperti paralyze (lumpuh). Menurut aku kalau ditanya pulse-nya orang muda Indonesia sekarang, itu lagi krisis harapan sih,” ungkap Abigail.

Ia menganalogikan kinerja pemerintahan yang baik seperti jalannya sistem transaksi perbankan. Ketika sistem berjalan dengan lancar tanpa gangguan (error), tidak akan ada nasabah yang membicarakannya. Namun, ketika sistem mengalami kegagalan, barulah ruang publik dipenuhi oleh komplain aduan.

“Ketika pemerintah itu oke, dia menghilang dari pembicaraan publik. Dan sekarang yang kita lihat, pembicaraan politik dibicarakan terus-menerus di semua kalangan. Jadi menurut aku itu indikasi yang sangat-sangat jelas,” tambahnya.