Kondisi serupa juga dirasakan Profesor Teologi University of Notre Dame, Timothy O’Malley. Menurutnya, mahasiswa kini kewalahan menghadapi bacaan 25–40 halaman yang sebelumnya dianggap biasa.
Ia menilai banyak mahasiswa lebih memilih membaca ringkasan yang dibuat kecerdasan buatan (AI) daripada materi asli sehingga kehilangan kesempatan memahami argumen secara mendalam.
Sementara itu, Profesor Brad East dari Abilene Christian University menilai persoalan utama bukan karena mahasiswa membenci membaca, melainkan rendahnya kepercayaan diri dan daya tahan membaca.
Di sisi lain, Profesor Brooke Vuckovic dari Kellogg School of Management, Northwestern University, menyebut sekitar 40–50 persen mahasiswa bisnis yang diajarnya bukan pembaca aktif, meski kemampuan mereka dapat meningkat setelah membiasakan diri membaca.
Wilson mengingatkan bahwa membaca bukan hanya berpengaruh terhadap prestasi akademik, tetapi juga membangun empati, memperluas perspektif, dan memperkuat hubungan sosial.
“Saya pikir polarisasi, kecemasan, kesepian, hingga berkurangnya persahabatan dapat terjadi ketika masyarakat tidak lagi membaca bersama,” ujarnya, dikutip dari Fortune.[dit]











