Tahren: Izin Guru, Tidak Semua Negara Bisa Dipaksa Tunduk oleh Washington

Tahren: Izin Guru, Tidak Semua Negara Bisa Dipaksa Tunduk oleh Washington/(Ilustrasi AI)

ADAKALANYA perang dimenangkan dengan menghancurkan lawan. Ada pula perang yang justru dimenangkan dengan membuat lawan gagal mencapai tujuan politiknya.

Karena itu, perang tidak selalu selesai ketika satu pihak memiliki lebih banyak pesawat, kapal perang, rudal, atau satelit.

Perang baru benar-benar menghasilkan kemenangan ketika kekuatan militer tersebut berhasil diterjemahkan menjadi tujuan politik.

Dan di sinilah posisi Donald Trump terhadap Iran menjadi menarik.

Washington datang dengan kepercayaan diri khas negara adidaya. Amerika Serikat memiliki angkatan bersenjata paling kuat, teknologi tempur yang sangat maju, jaringan intelijen global, kekuatan ekonomi, dolar, sanksi, serta armada yang mampu beroperasi jauh dari wilayahnya sendiri.

Iran tentu tidak memiliki semua itu.

Tetapi Iran memiliki sesuatu yang kadang-kadang membuat negara adidaya pusing tujuh keliling:

kemampuan untuk bertahan.

Iran tidak harus lebih kuat daripada Amerika.

Iran hanya perlu memastikan bahwa Amerika tidak mendapatkan semua yang diinginkannya.

Dan kalau ukuran perang adalah tujuan politik, bukan sekadar jumlah rudal yang berhasil ditembakkan, maka persoalan Trump menjadi jauh lebih rumit.

Sebab sampai 13 Agustus 2026, Amerika belum berhasil memaksa Iran menyerah tanpa syarat. Bahkan kesepakatan sementara yang sempat menjadi pintu keluar perang pada Juni justru runtuh setelah Trump menyatakan kesepakatan tersebut berakhir pada awal Juli. Pada 12 Agustus, Reuters melaporkan bahwa upaya menghidupkan kembali kesepakatan itu masih mengalami kebuntuan.

Nah, di sinilah saya izin Guru untuk bertanya:

Kalau lawan belum menyerah, tujuan utama belum tercapai, kesepakatan damai belum menjadi final, lalu sebenarnya siapa yang sedang memegang kartu kemenangan?

Dari Ultimatum Menjadi Meja Negosiasi

Trump sejak awal sangat mengandalkan bahasa tekanan.

Iran harus tunduk.

Iran harus memenuhi tuntutan Amerika.

Ancaman militer menjadi instrumen untuk memperkuat diplomasi.

Secara teori, logikanya sederhana.

Tekanan dinaikkan.

Lawan gentar.

Lawan menyerah.

Kemudian Amerika mengumumkan kemenangan.

Masalahnya, Iran ternyata tidak membaca buku pedoman yang sama.

Tehran justru memilih bertahan.

Inilah yang membuat perang tersebut berubah menjadi permainan daya tahan.

Amerika memang mampu menghancurkan banyak sasaran.

Tidak ada alasan untuk menyangkal superioritas militer Amerika.

Tetapi menghancurkan fasilitas bukan sama dengan menghancurkan kehendak politik sebuah negara.

Gedung bisa runtuh.

Pangkalan bisa rusak.

Radar bisa dihantam.

Peluncur rudal bisa diburu.

Tetapi negara tidak otomatis menyerah hanya karena beberapa bangunannya berubah menjadi puing.

Dalam perang modern, terutama menghadapi negara sebesar Iran, pertanyaan akhirnya bukan:

“Berapa banyak target yang berhasil dihancurkan?”

Pertanyaannya:

“Setelah semua itu, apakah lawan melakukan apa yang kita inginkan?”

Dan jawabannya sejauh ini belum menunjukkan kemenangan telak Washington.

Kesepakatan 14 poin yang muncul pada Juni sebenarnya menjadi bukti menarik.

Dokumen tersebut mengatur penghentian operasi militer, penghormatan terhadap kedaulatan kedua negara, serta negosiasi untuk mencapai kesepakatan final dalam waktu maksimal 60 hari. Amerika juga berkomitmen menghapus blokade lautnya dalam 30 hari.

Bahkan persoalan paling berat—nuklir, sanksi, dan sejumlah isu strategis—tidak semuanya diselesaikan saat itu.

Artinya, setelah perang, Amerika tetap harus masuk ke ruang negosiasi.

Di sinilah ironi itu muncul.

Negara yang datang membawa ultimatum akhirnya tetap harus membawa pulpen.

Dan biasanya, kalau sudah sampai tahap membawa pulpen, berarti bom tidak menyelesaikan semuanya.

Hormuz: Kecil di Peta, Besar di Kepala Washington

Sekarang mari kita lihat Selat Hormuz.

Secara geografis, Hormuz bukanlah wilayah yang sangat luas.

Tetapi dalam politik dunia, jangan tertipu oleh ukuran peta.

Ada tempat yang kecil tetapi nilainya luar biasa besar.

Hormuz adalah salah satunya.

Jalur tersebut merupakan salah satu titik penting perdagangan energi dunia. Karena itu, kemampuan Iran memengaruhi lalu lintas di kawasan tersebut memberikan Tehran kartu strategis yang tidak bisa dihapus hanya dengan mengatakan:

“Amerika adalah negara paling kuat.”

Ya, Amerika memang kuat.

Tetapi geografi tidak membaca unggahan media sosial.

Kapal perang Amerika bisa datang.

Pesawat Amerika bisa terbang.

Satelit Amerika bisa memantau.

Namun ketika lalu lintas energi global terganggu, persoalannya berubah menjadi persoalan ekonomi dunia.

Dalam MoU Juni, Amerika diwajibkan mulai menghapus blokade lautnya, sementara Iran diminta mengupayakan pemulihan pelayaran komersial melalui Hormuz. Dokumen itu juga memberikan masa 60 hari untuk pelayaran tanpa pungutan.

Namun kesepakatan itu tidak bertahan lama.

Pada Agustus, persoalan Hormuz justru kembali menjadi titik pertentangan.

Reuters melaporkan Iran menolak membuka kembali jalur tersebut sebelum tuntutan Tehran dipenuhi, sementara Trump tetap mengklaim Amerika memiliki kendali atas Hormuz.

Lebih menarik lagi, laporan Wall Street Journal pada 12 Agustus menyebut lalu lintas kapal melalui Hormuz turun sangat drastis dibandingkan sebelum perang. Jadi, kalau ada yang mengatakan semuanya sudah normal karena Amerika “menguasai” Hormuz, kenyataan di laut ternyata tidak sesederhana pidato di podium.

Di sinilah geopolitik kadang-kadang lucu.

Amerika punya kapal perang.

Iran punya posisi geografis.

Amerika punya teknologi.

Iran punya selat.

Dan ternyata kapal perang tidak bisa mengubah letak geografis.

Iran Tidak Menang Perang Konvensional

Tetapi jangan pula kita membuat kesalahan sebaliknya.

Jangan karena ingin mengkritik Trump, lalu setiap kerusakan Iran dianggap kemenangan Iran.

Tidak.

Iran juga mengalami kerusakan besar.

Kemampuan militernya terkikis.

Infrastruktur terkena serangan.

Ekonominya menghadapi tekanan.

Dan Tehran juga tidak memperoleh seluruh tuntutan yang diinginkannya.

Jadi, mengatakan “Iran menghancurkan Amerika” juga tidak masuk akal.

Iran tidak menduduki Washington.

Iran tidak menghancurkan Pentagon.

Iran tidak memaksa seluruh Amerika menyerah.

Itu bukan persoalannya.

Kemenangan strategis tidak selalu berarti menghancurkan lawan.

Dalam perang asimetris, negara yang lebih lemah cukup membuat negara yang lebih kuat gagal mencapai tujuan maksimalnya.

Bayangkan pertandingan sepak bola.

Tim A punya pemain mahal, stadion megah, pelatih terkenal, dan gaji pemain luar biasa.

Tim B jauh lebih sederhana.

Tetapi Tim B bertahan 90 menit, tidak kebobolan, dan membuat Tim A pulang sambil bertanya:

“Lho, kok tadi kita tidak menang?”

Nah, kurang lebih seperti itulah logika perang asimetris.

Tidak indah.

Tidak romantis.

Tetapi efektif.

Persoalan Nuklir yang Tidak Selesai

Kemudian ada isu paling sensitif:

nuklir Iran.

Sebelum perang, tuntutan Washington terhadap program nuklir Iran sangat keras.

Tetapi kesepakatan 14 poin Juni justru meninggalkan banyak persoalan nuklir untuk tahap negosiasi berikutnya.

Reuters melaporkan rancangan tersebut menunda sebagian isu tersulit mengenai bagaimana program nuklir Iran akan dibatasi sampai kesepakatan final tercapai.

Ini penting.

Sebab kalau tujuan utama perang adalah menghilangkan ancaman nuklir Iran secara menyeluruh, maka pekerjaan itu jelas belum selesai hanya dengan menghentikan tembakan.

Apalagi kesepakatan sementara tersebut kemudian runtuh.

Per 12 Agustus, Washington dan Tehran masih belum menemukan jalan untuk menghidupkan kembali kesepakatan itu. Iran menuduh Amerika gagal memenuhi komitmennya, sementara Washington menilai Tehran tidak memenuhi kewajibannya, termasuk soal Hormuz.

Dengan demikian, perang belum menghasilkan jawaban final atas pertanyaan nuklir.

Dan bagi Trump, ini masalah.

Sebab perang yang dimulai dengan tuntutan maksimal tetapi berakhir dengan persoalan utama yang kembali masuk meja negosiasi tentu sulit disebut sebagai kemenangan strategis sempurna.

Amerika Mempunyai Bom, Iran Mempunyai Waktu

Ada satu hal yang sering dilupakan ketika membicarakan perang.

Waktu juga merupakan senjata.

Amerika bisa menghabiskan uang dalam jumlah besar untuk perang.

Iran juga mengalami kerugian.

Tetapi negara seperti Iran memiliki pengalaman panjang menghadapi tekanan, sanksi, isolasi, dan konflik regional.

Tehran tidak harus memenangkan setiap hari.

Tehran hanya harus bertahan cukup lama sampai biaya perang menjadi persoalan bagi lawannya.

Inilah yang membuat strategi Iran berbahaya.

Bukan karena Iran lebih kuat.

Tetapi karena Iran mampu membuat kekuatan Amerika menjadi mahal.

Setiap kapal yang dikerahkan membutuhkan biaya.

Setiap pesawat yang diterbangkan membutuhkan biaya.

Setiap sistem pertahanan yang digunakan membutuhkan biaya.

Setiap gangguan terhadap minyak memengaruhi pasar.

Setiap ketegangan Hormuz mengganggu pelayaran.

Setiap korban Amerika menjadi bahan perdebatan politik domestik.

Dan setiap kenaikan harga energi akhirnya bisa masuk ke rumah rakyat Amerika.

Perang yang awalnya terlihat seperti operasi militer dapat berubah menjadi persoalan ekonomi.

Trump tentu memahami hal tersebut.

Itulah sebabnya ekonomi menjadi bagian penting dalam kalkulasi Washington.

$300 Miliar Bukan Berarti Amerika Menulis Cek

Ada pula isu rekonstruksi Iran yang perlu diluruskan.

Dalam rancangan MoU, terdapat rencana agar Amerika bersama mitra regional menyusun mekanisme rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Iran dengan nilai setidaknya US$300 miliar. Tetapi angka tersebut merupakan target mekanisme rekonstruksi yang masih membutuhkan pengaturan lebih lanjut, bukan berarti Trump menyerahkan cek US$300 miliar langsung ke Tehran.

Ini penting agar analisis tidak berubah menjadi propaganda.

Kita boleh mengkritik Trump.

Tetapi jangan mengarang kelemahan Trump yang sebenarnya tidak ada.

Justru kritik yang paling kuat adalah kritik yang menggunakan fakta.

Sebab kalau lawan politik sudah salah, kita tidak perlu menambahkan kebohongan untuk mengalahkannya.

Biarkan fakta yang bekerja.

Trump Terjebak oleh Bayangan Dirinya Sendiri

Sekarang kita masuk ke bagian paling menarik.

Trump bukan hanya berhadapan dengan Iran.

Trump juga berhadapan dengan citra yang ia bangun sendiri.

Ia harus terlihat kuat.

Ia harus terlihat menang.

Ia harus terlihat sebagai pemimpin yang tidak pernah mundur.

Masalahnya, diplomasi memiliki penyakit yang tidak cocok dengan politik macho:

kompromi.

Semakin tinggi seseorang meneriakkan bahwa lawannya akan menyerah, semakin sulit menjelaskan kepada publik mengapa dirinya akhirnya duduk satu meja dengan lawan.

Inilah perangkap retorika.

Kalau Trump mengatakan: