Mungkin, menteri agama menganggap bahwa capaian 77,85 persen itu sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas capaian setinggi itu. Dan, ungkapan rasa syukur dalam doa adalah hal yang wajar.
Namun warganet yang usil mengkritiknya. Mungkin pihak orang yang mengkritisi belum pernah mendengar ada doa yang mengungkapkan detil prosentase seperti itu. Umumnya hanya disebutkan ‘banyak’ atau ‘tinggi’ atau ‘melimpah’ atau sejenis itu.
Sebaliknya, Menteri Nasaruddin menganggap doa seperti itu, yang detil, adalah hal wajar. Tidak ada masalah. Dan, sudah sepantasnya seorang menteri berkarya, mendukung, serta menyemangati hasil kerja pemerintah. Tidak ada yang salah.
Seumpama kondisi dibalik, seorang menteri tidak mendukung hasil kerja pemerintah, justru aneh.
Di era medsos sekarang, siapa saja bisa menyampaikan pendapat. Dengan latar belakang yang beragam. Mulai dari profesor sampai orang tidak sekolah. Mereka menyampaikan pendapat ke medsos. Bebas. Asalkan tidak menghina orang lain.
Pendapat akhir terserah publik. (*)







