Yang pertama merupakan bagian dari etika kenegaraan. Yang kedua justru berpotensi membuat masyarakat lupa bahwa kekuasaan dalam demokrasi bersifat sementara.
Presiden datang dan pergi. Pemerintahan berganti. Partai politik naik dan turun. Tetapi Indonesia tetap ada.
Maka, 17 Agustus seharusnya menjadi momentum untuk mengangkat kembali wajah Indonesia secara keseluruhan: para pahlawan, rakyat biasa, anak-anak sekolah, petani, nelayan, pekerja, tenaga kesehatan, guru, prajurit, dan seluruh warga yang hari ini menikmati kemerdekaan.
Bukan hanya wajah orang yang sedang duduk di kursi kekuasaan.
Kritik warganet juga memperlihatkan bahwa masyarakat memiliki ingatan sejarah. Mereka masih mengingat Soekarno-Hatta, Jenderal Sudirman, dan para tokoh yang memiliki hubungan langsung dengan perjuangan kemerdekaan.
Jika sebuah foto presiden akhirnya menjadi lebih ramai diperbincangkan daripada makna kemerdekaan itu sendiri, mungkin yang perlu dievaluasi bukan suara masyarakatnya, melainkan cara simbol tersebut dipilih dan ditampilkan.
Pada akhirnya, seorang pemimpin tidak perlu hadir di setiap simbol untuk membuktikan bahwa dirinya penting.
Justru pemimpin yang kuat adalah pemimpin yang mampu mengatakan bahwa negara ini jauh lebih besar daripada dirinya.
Prabowo hari ini adalah Presiden Republik Indonesia. Kelak, ia akan menjadi bagian dari sejarah kepemimpinan republik. Setelah masa jabatannya selesai, Merah Putih tetap berkibar dan Indonesia tetap berjalan.
Itulah mengapa kritik “Ini bukan ultah presiden” sebenarnya layak direnungkan.
Sebab 17 Agustus bukan hari ulang tahun seorang penguasa.
17 Agustus adalah hari ketika sebuah bangsa merayakan kemerdekaannya.
Rangkuman Suara Warganet
Perdebatan di media sosial di berbagai sumber akun Facebook kemudian diwarnai berbagai komentar.
Ace Nurzaman Ace mempertanyakan, “Kenapa bukan foto Jend Sudirman yang jelas kepahlawanannya”.
Dicky Andri menulis, “Cukup satu periode”, sedangkan Cece Ahmad Hidayat menyindir, “Ini ulang th presiden apa kemerdekaan RI?”.
Fazli Yuda mengingatkan, “ingat ada hidup dan kematian maka buatlah sesukamu”, sementara Pahmi Di menulis singkat, “yg penting bapak senang”.
Beragam komentar tersebut menunjukkan satu benang merah, yaitu sebagian warganet mempertanyakan kepantasan penggunaan foto Presiden Prabowo dalam atraksi HUT RI dan menginginkan agar simbol perayaan kemerdekaan lebih menonjolkan bangsa, sejarah, serta para pahlawan daripada figur penguasa.
Karena pada akhirnya, yang seharusnya terbang paling tinggi pada 17 Agustus bukanlah wajah seorang presiden.
Melainkan Merah Putih dan harga diri sebuah bangsa.[dit]











