Lontong Sayur dan Negara yang Harus Dibersihkan

Lontong Sayur dan Negara yang Harus Dibersihkan/(Rosadi Jamani)

Banjarmasin punya lontong Orari dengan ikan haruan. Tangerang punya lontong Cap Go Meh, bukti, perut manusia ternyata lebih cepat berdamai dari politik.

Ada pula lontong mie, ketoprak, lontong isi, lontong dekem Pemalang dan lontong tahu.

Begitulah Indonesia. Beda kuah, beda lauk, beda rempah, tetapi bisa duduk dalam satu piring.

Ironisnya, makanan kita kadang lebih toleran dari politikusnya. Lontong tidak pernah bertanya, “Kamu partai apa?”

Kuah santan tidak pernah meminta jabatan. Daging tidak pernah korupsi anggaran. Sambal tidak pernah membentuk koalisi untuk memperpanjang kekuasaan.

Mungkin para elite perlu belajar dari lontong. Perbedaan tidak harus menjadi permusuhan. Kekayaan tidak harus menjadi keserakahan. Kekuasaan tidak harus menjadi kesempatan menggerogoti negara.

Mobil saya akhirnya selesai dicuci. Kinclong lagi. Saya pun selesai sarapan.

Lalu muncul pikiran sederhana, alangkah indahnya kalau negara juga bisa dicuci.

Korupsi disikat. Kolusi dibilas. Nepotisme disemprot tekanan tinggi. Seluruh sistem dikeringkan dengan kain kejujuran.

Sayangnya, negara tidak punya tempat cuci mobil. Yang tersedia hanya hukum. Masalahnya, hukum harus ditegakkan manusia. Di situlah noda paling sulit dibersihkan muncul, keserakahan.

Pagi ini saya pulang membawa dua kesimpulan. Mobil kotor bisa dicuci. Lontong bisa mengenyangkan.

Tetapi negara kotor hanya bisa dibersihkan kalau orang-orang memegang kekuasaan benar-benar mau berhenti mengotori.

Sebab republik ini tidak kekurangan air. Tidak kekurangan sabun. Yang kadang kurang adalah kemauan untuk benar-benar membersihkan.

Yang merasa ngiler, seruput Koptagul aja wak!

Penulis: Rosadi Jamani