“Kontrak ini menyediakan produksi pesawat, integrasi sistem, modernisasi, peningkatan, retrofit, pemeliharaan, dan pembentukan kemampuan pemeliharaan depo organik untuk mengirimkan serta memelihara kemampuan Sistem Senjata F-15,” tulis Kementerian Perang AS, Rabu waktu setempat.
Kontrak tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi kebutuhan militer AS. Program juga mencakup skema Foreign Military Sales (FMS) untuk negara mitra, termasuk Indonesia, Jepang, Israel, Arab Saudi, Korea Selatan, Singapura, dan Polandia.
Pekerjaan utama berlokasi di St. Louis, Missouri, dengan target penyelesaian hingga Agustus 2037. Masa pemesanan berakhir 24 Agustus 2031 dan dapat diperpanjang sampai 24 Agustus 2036.
Pada tahap awal, pemerintah AS mengalokasikan US$343.740 atau sekitar Rp6,08 miliar dari anggaran penelitian, pengembangan, pengujian, dan evaluasi tahun fiskal 2026.
Selain F-15, Kementerian Perang AS memberikan kontrak US$27,4 juta atau sekitar Rp485,12 miliar kepada University of New Mexico untuk pengembangan dan integrasi sistem nuklir, termasuk pengujian penerbangan serta sistem komando, kendali, dan komunikasi nuklir. Proyek tersebut ditargetkan rampung pada 24 November 2031.[dit]











