Satwa yang Kehilangan Rumahnya

Satwa yang Kehilangan Rumahnya
Satwa yang Kehilangan Rumahnya/ilustrasi

SENIN malam, 31 Agustus 2026, saya menerima kiriman sebuah video dari pimpinan.

Seperti biasa, ada peristiwa yang harus saya kerjakan menjadi berita.

Sebagai penulis, saya memahami hal itu sebagai bagian dari pekerjaan.

Saya membuka video, mengamati peristiwa yang terekam, kemudian bersiap mencari informasi untuk menyusun sebuah berita.

Namun malam itu berbeda.

Saya tidak langsung memikirkan judul.

Saya justru terdiam.

Dalam video tersebut terlihat seekor orangutan tergeletak di jalan.

Tubuh satwa itu berada di tempat yang semestinya bukan menjadi habitatnya.

Di sekelilingnya terlihat jalan, kendaraan, serta hamparan lahan yang tampak terdampak kebakaran.

Video yang awalnya saya terima sebagai bahan pekerjaan, perlahan terasa seperti sesuatu yang lebih berat dari sekadar materi berita.

Dengan menalar dengan empati, saya mencoba untuk merasakan apa yang orangutan itu rasakan, dan jadilah tulisan ini.

Hal ini karena saya melihat seekor makhluk hidup yang mungkin sedang berjuang mempertahankan kehidupannya ketika habitat yang selama ini menjadi tempat berlindung dan mencari makan mengalami gangguan.

Di situlah saya kembali menyadari bahwa pekerjaan saya terkadang membawa kita berhadapan dengan kenyataan yang tidak mudah dicerna.

Di Balik Angka Kebakaran Hutan Ada Kehidupan

Selama ini kebakaran hutan dan lahan kerap diberitakan melalui angka.

Berapa hektare lahan terbakar, titik panas terdeteksi, wilayah terdampak, atau banyak personel dikerahkan.

Semua data tersebut penting. Namun malam itu, saya melihat sisi lain yang tidak sepenuhnya dapat diwakili angka.

Di balik setiap hektare hutan yang terbakar, ada kehidupan.