Suahasil Nazara Jadilah Menkeu Nasional, Bukan Sekedar untuk Elite

Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Suahasil Nazara Sebagai Menteri Keuangan RI menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa,

Pertanyaan ini bukan tuduhan. Ini adalah pertanyaan publik yang wajar.

Apalagi pergantian Purbaya berlangsung di tengah berbagai spekulasi mengenai dinamika internal Kementerian Keuangan.

DetikFinance melaporkan adanya isu persoalan koordinasi internal, termasuk terkait Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Suahasil sendiri membantah adanya persoalan internal dengan menjawab singkat, “Aman, aman.”

Pada saat yang sama, perubahan besar terhadap sejumlah pejabat Kementerian Keuangan yang dilakukan beberapa hari sebelum pergantian Menteri Keuangan juga menjadi bagian dari dinamika yang harus dihadapi Suahasil.

Ia menyatakan akan melihat terlebih dahulu keputusan dan landasan hukum terkait perombakan tersebut sebelum menentukan tindak lanjut.

Di sinilah publik seharusnya tidak terburu-buru memberikan pujian maupun vonis.

Dua sampai enam bulan pertama akan menjadi periode penting untuk melihat arah sebenarnya.

Apakah penerimaan pajak dan bea cukai diperbaiki secara serius?

Apakah kebocoran anggaran ditutup?

Apakah belanja pemerintah dievaluasi berdasarkan manfaat, bukan sekadar karena sudah masuk daftar prioritas?

Apakah defisit dijaga dengan disiplin? Dan yang paling penting, apakah Suahasil berani menyampaikan kepada Presiden ketika sebuah kebijakan secara fiskal memang tidak sehat?

Karena Menteri Keuangan yang baik bukan Menteri yang selalu berkata “bisa”.

Kadang-kadang, justru keberanian berkata “tidak bisa” adalah bentuk pengabdian yang paling mahal.

Pasar mungkin menyukai stabilitas. Pemerintah membutuhkan loyalitas. Parlemen membutuhkan koordinasi.

Namun rakyat membutuhkan satu hal yang jauh lebih sederhana: uang negara dikelola dengan masuk akal.

Suahasil Nazara memiliki modal pengetahuan, pengalaman, dan pemahaman birokrasi untuk melakukan itu. Tetapi modal tersebut baru menjadi kepemimpinan jika disertai keberanian.

Jabatan Menteri Keuangan bisa diberikan Presiden. Kepercayaan pasar bisa datang dalam sehari. Tetapi kredibilitas fiskal tidak lahir dari pelantikan.

Ia dibangun melalui keputusan-keputusan sulit.

Maka jangan buru-buru bertanya apakah Suahasil akan menjadi lebih baik daripada Purbaya, atau apakah ia akan membawa kembali gaya Sri Mulyani.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: ketika kepentingan politik bertabrakan dengan kesehatan APBN, di sisi mana Suahasil akan berdiri?

Di situlah sejarah akan menilai.

Bukan dari pidato pelantikan.

Bukan dari gelar akademik.

Bukan pula dari seberapa ramah pasar menyambutnya.

Tetapi dari keberaniannya menjaga uang rakyat ketika tekanan datang dari segala arah.

Nilai dari keputusan yang ia ambil ketika harus memilih antara menyenangkan kekuasaan atau menyelamatkan kesehatan fiskal negara.[dit]