FAKTANASIONAL.NET – Saat berkuasa lebih sering menggunakan kekuasaan ketimbang pengetahuan untuk mengendalikan, maka saat tidak berkuasa lagi, apa yang dikendalikan itu pelan-pelan mulai terlepas satu persatu.
Sebaliknya, saat berkuasa lebih sering menggunakan pengetahuan ketimbang kekuasaan untuk mengendalikan, maka saat tidak berkuasa lagi, apa yang dikendalikan itu cenderung lebih kuat dan bertahan cukup lama.
Saya memaknai (mengambil hibroh) seperti itu terhadap apa yang dialami mantan Presiden Jokowi saat ini, termasuk Wapres Gibran, yang tak henti-hentinya dirundung persoalan setelah tidak sepenuhnya berkuasa lagi. Bukan sudah tidak berkuasa, saya pakai kalimat tidak sepenuhnya berkuasa lagi. Sebab, jabatan Wapres yang melekat pada diri Gibran saat ini, adalah jabatan nomor dua, setelah Presiden.
Bandingkan dengan mantan Presiden SBY, Megawati, Gus Dur, apalagi Habibie. Kiranya tidak ada yang mengalami persoalan seperti yang dialami mantan Presiden Jokowi saat ini. Bukan mereka tak menggunakan kekuasaannya pada saat berkuasa, tapi mungkin pengetahuan lebih menuntun mereka ketimbang kekuasaannya.
Habibie malah tak mau lagi dicalonkan sebagai Presiden, hanya karena laporan pertanggungjawabannya ditolak oleh MPR saat itu.
Mengatakan mereka yang mempersoalkan ijazah Jokowi dan Gibran sebagai pembenci keluarga Jokowi, bisa saja dan sah-sah saja. Tapi kalau tidak ada celahnya, ya tidak bisa juga. Atau, mengatakan mereka sebagai kelompok yang kalah Pilpres, ya bisa juga dan itu hak terhadap pembelaan Jokowi. Tapi, sekali lagi, kalau tidak ada persoalan (celah), hanya mengada-ada, mana mungkin sampai berlarut-larut seperti saat ini?











