BGN Uji Coba MBG Prasmanan, Siswa Kini Sajikan Makanan di Kelas

Survei MBG Tampilkan Dua Wajah Berbeda
Survei MBG Tampilkan Dua Wajah Berbeda/(Foto/@ilustrasi)

“Yang jelas kalau prasmanan ini memang kalau sudah terbiasa akan bagus, sama seperti di negara lain. Cuman memang perlu ada training yang cukuplah, karena melibatkan sekolah, melibatkan siswanya,” katanya.

BGN juga memantau jumlah makanan yang tersisa selama uji coba. Berdasarkan laporan sementara, tingkat makanan yang habis dinilai cukup baik. Siswa yang masih ingin makan juga dapat mengambil tambahan selama makanan tersedia.

“Lebih fresh, kemudian ada yang mungkin mau nambah, masih ada sisa, bisa nambah, jadi waste-nya lebih sedikit ya karena prasmanan itu,” ujarnya.

Piloting MBG prasmanan saat ini dilakukan di sejumlah wilayah, antara lain Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, dan Papua, termasuk Jayapura.

BGN masih mengevaluasi berbagai persoalan yang muncul sebelum memperluas penerapan sistem tersebut. Evaluasi mencakup keberhasilan pelaksanaan hingga kendala yang dihadapi dapur SPPG, sekolah, dan siswa.

Makanan tidak harus selalu dimasak di sekolah. Makanan dapat disiapkan SPPG atau dapur pusat, kemudian dikirim dalam kondisi hangat untuk disajikan di kelas.

Sudaryono mengatakan pola central kitchen tersebut dipelajari BGN melalui pembelajaran bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Jepang. Namun, sekolah dengan jumlah siswa besar dapat memasak langsung di lingkungan sekolah, seperti pesantren dengan lebih dari 1.000 siswa yang memiliki dapur sendiri.[dit]