Menurut Argitoeranting, kebakaran tidak hanya merusak tutupan hutan, tetapi juga mengurangi ketersediaan sumber pakan. Sebagian orang utan bahkan terjebak di kawasan perkebunan yang berbatasan dengan hutan setelah kehilangan ruang jelajah dan jalur menuju kawasan yang lebih aman.
“Kebakaran menyebabkan tutupan hutan rusak dan sumber pakan berkurang. Sebagian orang utan bahkan terjebak di perkebunan yang berbatasan dengan hutan setelah kehilangan ruang jelajah dan jalur menuju kawasan hutan yang lebih aman,” jelas dia.
Murlan menegaskan bahwa penyelamatan dan translokasi merupakan bagian dari strategi konservasi yang lebih luas. “Upaya penyelamatan satwa liar tidak berhenti pada penyelamatan dan translokasi. Keduanya merupakan bagian dari strategi konservasi yang lebih luas. Hal terpenting adalah bagaimana kita bersama-sama menyediakan ‘rumah’ yang aman dan layak bagi satwa liar,” kata Murlan, Minggu (11/10/2026).
Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Ketapang Utara, Ya’ Suharnoto, mengatakan pemilihan Hutan Lindung Batu Nyambu sebagai lokasi translokasi telah mempertimbangkan kajian sosial dan kesesuaian habitat. Ia berharap patroli rutin terus dilakukan untuk menjaga keamanan kawasan tersebut.
Ia juga menilai penanaman pohon penghasil bunga dan buah perlu ditingkatkan guna memenuhi kebutuhan pakan orang utan.
Hutan Lindung Batu Nyambu memiliki luas sekitar 23.000 hektare, dengan tutupan hutan primer dan sekunder. Survei pada 2023 menunjukkan kawasan tersebut merupakan habitat alami orang utan dengan daya dukung ekologis yang dinilai memadai.
Penyelamatan puluhan orang utan ini menjadi bagian dari upaya penanganan dampak karhutla di Kalimantan Barat. Perlindungan habitat tetap diperlukan agar satwa yang telah diselamatkan tidak kembali menghadapi ancaman kehilangan tempat hidup.[dit]









