Rangkaian penyelidikan dan sanksi tersebut menjadi bagian dari upaya penanganan karhutla yang terus meluas di sejumlah wilayah Indonesia.
Dampak karhutla juga menjadi perhatian Malaysia karena asap kebakaran di Indonesia memperburuk pencemaran udara lintas batas. Pemerintah Malaysia pun kembali mendorong penguatan kerja sama regional untuk menangani persoalan tersebut.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan Presiden Indonesia Prabowo Subianto telah menyatakan kesediaannya mengambil langkah yang diperlukan untuk mengatasi penyebab kabut asap.
Anwar menyampaikan hal itu setelah menghubungi Prabowo pada Kamis, 8 Oktober. Percakapan tersebut membahas situasi karhutla yang berdampak terhadap kualitas udara di Malaysia.
“Masalah kabut asap ini memang mengkhawatirkan. Saya secara pribadi menghubungi Presiden Prabowo, dan beliau setuju untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan,” kata Anwar.
Pernyataan itu disampaikan Anwar, yang juga menjabat Menteri Keuangan Malaysia, kepada wartawan setelah meninjau persiapan penyampaian Anggaran 2027 di Kementerian Keuangan.
Penyelidikan terhadap perusahaan terkait karhutla dan komunikasi antara kedua pemimpin tersebut menunjukkan bahwa persoalan kebakaran hutan tidak hanya berdampak di dalam negeri, tetapi juga memengaruhi hubungan lingkungan antarnegara.[dit]











