FAKTANASIONAL.NET – Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menegaskan gerakan Merawat Pertiwi menjadi salah satu platform partainya. Program lingkungan, katanya, tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi harus menjadi sumber penghidupan dan membuka lapangan pekerjaan.
“Gerakan Merawat Pertiwi ini menjadi salah satu platform dari PDI Perjuangan yang berangkat dari aspek ideologis, dengan cara-cara gotong royong kita menjaga pertiwi kita melalui gerakan menanam pohon, penghijauan, termasuk mangrove,” ujar Hasto di Malang Selatan, Jawa Timur, Jumat (16/10/2026).
Kegiatan itu bagian dari Workshop UMKM Gotong Royong dan Deklarasi Komunitas Penggiat Lingkungan Mangrove, dibuka di aula Sri Maha Resort lalu berlanjut ke Pantai Teluk Asmara. Ratusan anak muda dan mahasiswa menjadi peserta, bersama warga yang berprofesi nelayan dan pelaku UMKM.
Hadir mendampingi Hasto, Eriko Sotarduga (Ketua Bidang Kehutanan dan Lingkungan Hidup DPP PDI Perjuangan), Tri Rismaharini (Penanggulangan Bencana), Andreas Eddy Susetyo (Koperasi dan UMKM), Andreas Hugo Pareira (Keanggotaan dan Organisasi), serta Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Kerakyatan Sri Rahayu. Turut hadir Sri Oentari dari PDI Perjuangan Jawa Timur, Guntur Romli, penerima Kalpataru, Saptoyo, dan M. Zamroni.
Hasto menempatkan penciptaan lapangan kerja sebagai alasan utama gerakan itu. “Dengan cara itu pemerintah juga diuntungkan dengan menciptakan lapangan pekerjaan bagi rakyat melalui penghijauan kembali hutan-hutan kita,” ujarnya.
Ia merujuk pengalaman komunitas Clungup sebagai bukti. “Mangrove ternyata juga bisa menciptakan lapangan pekerjaan, bisa melakukan perubahan ekosistem, dan dikaitkan dengan ekowisata yang berdampak pada penciptaan lapangan pekerjaan,” kata Hasto.
“Tidak perlu ada pengangguran di Republik ini hanya dengan menanam mangrove di seluruh wilayah pantai kita.”
Di sesi bersama anak muda, Ketua Bidang Koperasi dan UMKM DPP PDI Perjuangan Andreas Eddy Susetyo memetakan peserta lewat pertanyaan usia di bawah 25 tahun dan di bawah 35 tahun, lalu menyimpulkan keresahan utama mereka. “Susah-susah sekolah, susah-susah kuliah, ya, begitu lulus gak iso kerjo,” ujarnya.
Andreas menawarkan cara pandang komunitas.










