PDIP Ajak Anak Muda Hidup dari Merawat Alam, Andreas Susetyo: Komunitas Kecil Jadi Kekuatan

“Katakanlah kita menyalakan lilin-lilin kecil, tetapi lilin-lilin kecil itu kemudian secara bersama-sama bisa menerangi dunia,” katanya.

“Kalau yang kecil-kecil ini kemudian bergabung, itulah menjadi kekuatan kita.”

Hasto mengajak peserta mengemas pengalaman di kawasan itu menjadi gagasan dan kerja tim. Peserta ditantang memproduksi konten digital bertagar Merawat Pertiwi, dengan hadiah menarik.

Dialog berkembang ketika Christianovino Ramaditya, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, mempertanyakan bagaimana PDI Perjuangan mengajak lebih banyak orang merawat lingkungan, sementara ada gerakan politik yang dinilainya justru mendukung perusakan.

Hasto menempatkan jawabannya pada kebijakan dan tata ruang. Ia menyebut Megawati Soekarnoputri satu-satunya presiden yang tidak mengeluarkan izin konversi hutan untuk sawit, serta menyoroti capaian pendidikan. Dia pun menyinggung Skor PISA (Programme for International Student Assessment) Indonesia.

Ia juga menyebut penguasaan iptek dan politik ekologis sebagai syarat visi geopolitik Soekarno.

Hasto juga mengumumkan gerakan peduli sampah nasional 9-14 November 2026, dengan pengelolaan sampah organik rumah tangga di tingkat RT melalui program teba dan bio-dekomposer, serta puncak aksi bersih kota pada 14 November. Kepala daerah PDI Perjuangan diminta membuat kebun raya dan pembibitan, termasuk cemara udang sebagai tanaman wajib, dengan Eriko Sotarduga sebagai penanggung jawab bidang lingkungan.

Model CMC di Malang Selatan dinilainya layak direplikasi. “Dengan mengintegrasikan dengan ecotourism, dampaknya dua kali lipat. Kalau sebelumnya hanya 5,3 hektar per tahun, sekarang menjadi lebih dari 10 hektar per tahun,” katanya. “Kalau dari PDI Perjuangan itu satunya kata dan perbuatan,” tegasnya.