FAKTANASIONAL.NET – Pergantian kursi Kapolri dari Jenderal Listyo Sigit Prabowo ke Jenderal Suyudi Ario Seto ternyata berlanjut dengan tersingkirnya para petinggi polri yang berperan dalam pengungkapan kasus Eks-Jampidsus Febrie Adriansyah.
Sementara pada saat bersamaan, Presiden Prabowo mempertahankan Jaksa Agung ST Burhanuddin. Hal ini merupakan anomali serius yang mempertaruhkan kredibilitas pemerintah di tengah anjloknya elektabilitas Presiden menjadi 9,8 persen dalam simulasi semi terbuka SMRC.
Kontradiksi ini semakin tajam karena pergantian Listyo disusul pergeseran Kakortastipidkor dan Kapolda Metro Jaya, dua pimpinan satuan yang mengungkap dugaan korupsi dan pencucian uang yang menyeret mantan Jampidsus Febrie Adriansyah.
Besarnya perkara Febrie menuntut evaluasi menyeluruh terhadap pengawasan internal Kejaksaan Agung. Jaksa Agung tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab kepemimpinan untuk menjelaskan bagaimana dugaan penyimpangan sebesar itu dapat terjadi di lingkungan institusinya.
Pertanggungjawaban pidana tetap ditentukan melalui pengadilan, sedangkan evaluasi terhadap pimpinan tidak perlu menunggu seluruh proses tersebut selesai.
Alih-alih memperlihatkan ketegasan evaluasi yang setara, Presiden lebih dahulu mengganti pimpinan kepolisian yang institusinya mengawali pengungkapan perkara.
Bertahannya Jaksa Agung, sementara Listyo diganti, membuka kritik terhadap ketimpangan pertanggungjawaban.
Presiden wajib menjelaskan dasar keputusan tersebut agar keberanian membongkar dugaan kejahatan di lingkungan pejabat tinggi tidak justru dipersepsikan membawa risiko bagi jabatan pengungkapnya.
Sorotan itu semakin kuat setelah Kapolri baru, Jenderal Suyudi Ario Seto, melakukan perombakan besar dalam hitungan hari dengan total kumulatif memcapai 301 perwira tinggi dan menengah.
Skala dan kecepatannya membuka kritik bahwa jajaran era Listyo sedang disingkirkan dari posisi strategis untuk membentuk susunan komando baru.
Di antara pejabat yang digeser adalah Irjen Totok Suharyanto, dari Kakortastipidkor menjadi Kapolda Sulawesi Barat, serta Komjen Asep Edi Suheri, dari Kapolda Metro Jaya menjadi Irwasum.









