Hadapi Era Opini Digital, BUMN Wajib Bangun Sistem Intelligence Korporasi

Bambang Soesatyo (Bamsoet), saat memberikan sambutan pada Sidang Promosi Doktor Ilmu Manajemen Saut Situmorang di Universitas Persada Indonesia Y.A.I, Rabu (18/2/2026).

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET — Penguatan competitive intelligence dinilai menjadi kebutuhan mendesak dalam agenda transformasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Penegasan tersebut disampaikan Ketua MPR RI ke-15, Bambang Soesatyo, saat memberikan sambutan pada Sidang Promosi Doktor Ilmu Manajemen Saut Situmorang di Universitas Persada Indonesia Y.A.I, Rabu (18/2/2026).

Tokoh yang akrab disapa Bamsoet itu menilai, derasnya arus informasi digital serta meningkatnya sorotan publik terhadap tata kelola korporasi menempatkan reputasi BUMN sebagai faktor kunci keberlanjutan bisnis sekaligus legitimasi sosialnya sebagai pengelola aset negara.

Menurutnya, reputasi BUMN tidak sekadar menyangkut citra perusahaan, tetapi mencerminkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap negara. Gangguan reputasi, lanjut dia, dapat berdampak luas pada kepercayaan investor, stabilitas pasar, hingga legitimasi sosial korporasi.

Ia menegaskan, setiap BUMN perlu memiliki sistem competitive intelligence yang mampu membaca sentimen publik secara cepat dan akurat. Sistem tersebut diharapkan dapat menjadi instrumen deteksi dini terhadap potensi krisis.

Bamsoet mencontohkan kasus dugaan korupsi tata kelola impor minyak mentah dan produk kilang di Pertamina yang ditaksir merugikan negara hingga Rp285 triliun. Kasus tersebut, kata dia, menjadi pelajaran penting tentang bagaimana krisis tata kelola dapat secara langsung memengaruhi persepsi publik dan citra korporasi, khususnya di ruang digital.

Ia mengingatkan, perusahaan tidak boleh menunggu krisis membesar sebelum mengambil langkah. Melalui pendekatan competitive intelligence, BUMN dapat memetakan potensi isu sejak awal, menganalisis pola pemberitaan, serta menyiapkan respons berbasis data sebelum opini publik berkembang liar.