FAKTANASIONAL.NET – Kebakaran hebat yang melanda kilang minyak Viva Energy di Geelong, Australia, pada Rabu malam, 15 April 2026, menjadi sinyal merah bagi ketahanan energi Negeri Kanguru.
Serangkaian ledakan yang dipicu kebocoran gas tersebut menciptakan kobaran api setinggi 60 meter, menghanguskan unit produksi bensin beroktan tinggi.
Mengingat fasilitas ini menyumbang 10 persen pasokan nasional, insiden ini bukan sekadar kecelakaan industri, melainkan ancaman nyata bagi mobilitas publik.
Laporan AFP yang dikutip pada Kamis, 16 April 2026, mengonfirmasi bahwa meski produksi diesel dan avtur berhasil diisolasi, lini produksi bensin mengalami kerusakan serius.
Menteri Energi Chris Bowen mengakui bahwa insiden ini terjadi pada waktu yang sangat tidak tepat. Australia saat ini hanya memiliki cadangan bensin untuk 38 hari, angka yang jauh dari standar keamanan energi internasional yakni 90 hari.
Kebergantungan pada impor menjadikan posisi Australia sangat rentan terhadap guncangan domestik seperti ini.
Situasi kian pelik karena jalur distribusi energi di Selat Hormuz sedang terganggu akibat konflik di Timur Tengah. Dengan tertutupnya akses suplai global dan lumpuhnya salah satu dari dua kilang tersisa di Australia, pemerintah kini berpacu dengan waktu.
Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan panic buying dan mulai beralih ke transportasi umum. Langkah penghematan ini menjadi krusial guna menjaga stabilitas stok nasional hingga unit produksi di Geelong dapat dipulihkan sepenuhnya.[dit]











